KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha
Pengasih dan Maha Penyayang karena berkat dan rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan
tugas ini. Tugas ini kami susun berdasarkan informasi-informasi yang kami dapat
dari Buku-buku serta dari berbagai Media elektronik
(internet) .
Makalah ini kami buat dengan
tujuan memenuhi tugas kami dalam mata kuliah Bahasa Indonesia yang
membahas mengenai ”Kalimat Efektif”
Ucapan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyusun
makalah ini, terutama kepada dosen Bahasa
Indonesia yang telah memberikan pengarahan dalam
penyusunannya, juga kepada sumber-sumber yang telah kami jadikan bahan dalam
penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang dapat
membangun dari semua pihak sangat kami butuhkan. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
Sumedang, 25 Oktober 2018
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar ......................................................................................................... i
Daftar
isi ................................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar belakang............................................................................... 1
B.
Rumusan masalah.......................................................................... 2
C.
Tujuan .......................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kalimat Efektif................................................................. 3
B.
Unsur-unsur
Kalimat Efektif .............................................................. 3
C.
Ciri-ciri
Kalimat Efektif...................................................................... 9
D.
Syarat-syarat
Kalimat Efektif ............................................................ 12
E.
Prinsip dalam
Kalimat Efektif ............................................................ 13
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................... 17
B.
Daftar Isi ........................................................................................... 18
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan
sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran,
keinginan, atau perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis. Bahasa
yang digunakan itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang
dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau
pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik disebut dengan
kalimat efektif.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan
pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat
pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat
memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang
dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan tetapi, kadang-kadang harapan itu
tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan bicara atau pembaca tidak memahami
apa maksud yang diucapkan atau yang dituliskan. Supaya kalimat yang dibuat
dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat yang
digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya
ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak
ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat
diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah.
Dalam karangan ilmiah sering kita jumpai kalimat-kalimat yang tidak
memenuhi syarat sebagai bahasa ilmiah. Hal ini disebabkan oleh, antara lain,
mungkin kalimat-kalimat yang dituliskan kabur, kacau, tidak logis, atau
bertele-tele. Dengan adanya kenyataan itu, pembaca sukar mengerti maksud
kalimat yang kita sampaikan karena kalimat tersebut tidak efektif. Berdasarkan kenyataan
inilah penulis tertarik untuk membahas kalimat efektif dengan segala
permasalahannya.
B.
Rumusan Masalah
- Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif?
- Apa saja unsur-unsur kalimat?
- Apa ciri-ciri kalimat efektif?
- Apa syarat yang mendasari kalimat efektif?
- Bagaimana prinsip dalam kalimat efektif?
C.
Tujuan
- Mengetahui apa yang dimaksud dengan kalimat efektif.
- Mengetahui apa saja unsur-unsur kalimat.
- Mengetahui apa ciri-ciri kalimat efektif.
- Mengetahui apa syarat yang mendasari kalimat efektif.
- Mengetahui bagaimana prinsip dalam kalimat efektif.
-
BAB IIPEMBAHASANA. Pengertian Kalimat EfektifKalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti gagasan yang ada pada pikiran pembicara atau penulis. Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. Kalimat efektif adalah kalimat yang terdiri atas kata-kata yang mempunyai unsur SPOK atau kalimat yang mempunyai ide atau gagasan pembicara/ penulis.B. Unsur-Unsur Kalimat EfektifUnsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa Indonesia lama lazim disebut jabatan kata dan kini disebut peran kata dalam kalimat, yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa Indonesia baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua unsur, yakni subjek dan predikat. Unsur yang lain (objek, pelengkap, dan keterangan) dalam suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir.1. Subjek (S)Subjek (S) adalah bagian kalimat menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu hal, suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh jenis kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh sebagai berikut ini:– Ayahku sedang melukis.– Meja direktur besar.– Yang berbaju batik dosen saya.– Berjalan kaki menyehatkan badan.– Membangun jalan layang sangat mahal.Kata-kata yang dicetak tebal pada kalimat di atas adalah S. Contoh S yang diisi oleh kata dan frasa benda terdapat pada kalimat (a) dan (b), contoh S yang diisi oleh klausa terdapat pada kalimat (c), dan contoh S yang diisi oleh frasa verbal terdapat pada kalimat (d) dan (e).Dalam bahasa Indonesia, setiap kata, frasa, klausa pembentuk S selalu merujuk pada benda (konkret atau abstrak). Pada contoh di atas, kendatipun jenis kata yang mengisi S pada kalimat (c), (d) dan (e) bukan kata benda, namun hakikat fisiknya tetap merujuk pada benda. Bila kita menunjuk pelaku pada kalimat (c) dan (d), yang berbaju batik dan berjalan kaki tentulah orang (benda). Demikian juga membangun jalan layang yang menjadi S pada kalimat (e), secara implisit juga merujuk pada “hasil membangun” yang tidak lain adalah benda juga. Di samping itu, kalau diselami lebih dalam, sebenarnya ada nomina yang lesap, pada awal kalimat (c) sampai (e), yaituorang pada awal kalimat (c) dan kegiatan pada awal kalimat (d) dan (e).Selain ciri di atas, S dapat juga dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata tanya siapa (yang)… atau apa (yang)… kepada P. Kalau ada jawaban yang logis atas pertanyaan yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada dan atau tidak logis berarti kalimat itu tidak mempunyai S. Inilah contoh “kalimat” yang tidak mempunyai S karena tidak ada/tidak jelas pelaku atau bendanya.1. Bagi siswa sekolah dilarang masuk.2. Di sini melayani obat generic.3. Memandikan adik di pagi hari.Contoh (a) sampai (c) belum memenuhi syarat sebagai kalimat karena tidak mempunyai S. Kalau ditanya kepada P, siapa yang dilarang masuk pada contoh (a) siapa yang melayani resep pada contoh (b) dan siapa yang memandikan adik pada contoh (c), tidak ada jawabannya. Kalaupun ada, jawaban itu terasa tidak logis.2. Predikat (P)Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat). Selain memberitahu tindakan atau perbuatan subjek (S), P dapat pula menyatakan sifat, situasi, status, ciri, atau jatidiri S. termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki oleh S. predikat dapat juga berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal. Perhatikan contoh berikut:1. Kuda meringkik.2. Ibu sedang tidur siang.3. Putrinya cantik jelita.4. Kota Jakarta dalam keadaan aman.5. Kucingku belang tiga.6. Robby mahasiswa baru.7. Rumah Pak Hartawan lima.Kata-kata yang dicetak tebal dalam kalimat di atas adalah P. katameringkik pada kalimat (a) memberitahukan perbuatan kuda. Kelompok katasedang tidur siang pada kalimat (b) memberitahukan melakukan apa ibu,cantik jelita pada kalimat (c) memberitahukan bagaimana putrinya, dalamkeadaan aman pada kalimat (d) memberitahukan situasi kota Jakarta, belang tiga pada kalimat (e) memberitahukan ciri kucingku, mahasiswa baru pada kalimat (f) memberitahukan status Robby, dan lima pada kalimat (g) memberitahukan jumlah rumah Pak Hartawan.Berikut ini contoh kalimat yang tidak memiliki P karena tidak ada kata-kata menunjuk pada perbuatan, sifat, keadaan, ciri, atau status pelaku atau bendanya.1. Adik saya yang gendut lagi lucu itu.2. Kantor kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.3. Bandung yang terkenal kota kembang.Walaupun contoh (a), (b), (c) ditulis persis seperti lazimnya kalimat normal, yaitu diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, namun di dalamnya tidak ada satu kata pun yang berfungsi sebagai P. Tidak ada jawaban atas pertanyaan melakukan apa adik yang gendut lagi lucu (pelaku) pada contoh (a), tidak ada jawaban atas pertanyaan kenapa atau ada apa dengan kantor di Jalan Gatot Subroto dan Bandung terkenal sebagai kota kembang itu pada contoh (b) dan (c). karena tidak ada informasi tentang tindakan, sifat, atau hal lain yang dituntut oleh P, maka contoh (a), (b), (c) tidak mengandung P. Karena itu, rangkaian kata-kata yang cukup panjang pada contoh (a), (b), (c) itu belum merupakan kalimat, melainkan baru merupakan kelompok kata atau frasa.3. Objek (O)Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O, seperti pada contoh di bawah ini.1. Nurul menimang …2. Arsitek merancang …3. Juru masak menggoreng …Verba transitif menimang, merancang, dan menggoreng pada contoh tersebut adalah P yang menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P pada ketiga kalimat itulah yang dinamakan objek.Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan. Itulah sebabnya sifat O dalam kalimat dikatakan tidak wajib hadir. Verba intransitive mandi, rusak, pulang yang menjadi P dalam contoh berikut tidak menuntut untuk dilengkapi.1. Nenek mandi.2. Komputerku rusak.3. Tamunya pulang.Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan. Perhatikan contoh kalimat berikut yang letak O-nya di belakang dan ubahan posisinya bila kalimatnya dipasifkan.1) Martina Hingis mengalahkan Yayuk Basuki (O)2) Yayuk Basuki (S) dikalahkan oleh Martina Hingis.1) Orang itu menipu adik saya (O)2) Adik saya (S) ditipu oleh oran itu.4. Pelengkap (pel)Pelengkap (P) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. letak Pelengkap umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa nominal, atau klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan. Perhatikan cnntoh di bawah ini:1. Ketua MPR membacakan Pancasila.S P O2. Banyak orpospol berlandaskan Pancasila.S P PelKedua kalimat aktif (a) dan (b) yang Pel dan O-nya sama-sama diisi oleh nomina Pancasila, jika hendak dipasifkan ternyata yang bisa hanya kalimat (a) yang menempatkan Pancasila sebagai O. Ubahan kalimat (a) menjadi kalimat pasif adalah sebagai berikut:Pancasila dibacakan oleh ketua MPR.S P OPosisi Pancasila sebagai Pel pada kalimat (b) tidak bisa dipindah ke depan menjadi S dalam kalimat pasif. Contoh berikut adalah kalimat yang tidak gramatikal.Pancasila dilandasi oleh banyak orsospol.Hal lain yang membedakan Pel dan O adalah jenis pengisinya. Selain diisi oleh nomina dan frasa nominal, Pelengkap dapat juga diisi oleh frasa adjectival dan frasa preposisional.Di samping itu, letak Pelengkap tidak selalu persis di belakang P. Apabila dalam kalimatnya terdapat O, letak pel adalah di belakang O sehingga urutan penulisan bagian kalimat menjadi S-P-O-Pel. Berikut adalah beberapa contoh pelengkap dalam kalimat.1. Sutardji membacakan pengagumnya puisi kontemporer.2. Mayang mendongengkan Rayhan Cerita si Kancil.3. Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum.4. Annisa mengirimi kakeknya kopiah bludru.5. Pamanku membelikan anaknya rumah mungil.5. Keterangan (ket)Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai bagian kalimat yang lainnya. Unsur Ket dapat berfungsi menerangkan S, P, O, dan Pel. Posisinya bersifat bebas, dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket adalah frasa nominal, frasa preporsisional, adverbia, atau klausa.C. Ciri-Ciri Kalimat Efektif- Memiliki unsur penting atau pokok, minimal unsur SP.
- Taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku.
- Menggunakan diksi yang tepat.
- Menggunakan kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis dan sistematis.
- Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai.
- Melakukan penekanan ide pokok.
- Mengacu pada kehematan penggunaan kata.
- Menggunakan variasi struktur kalimat.
Untuk membuat kalimat efektif tidaklah sulit asalkan sudah memahami ciri-ciri suatu kalimat dikatakan efektif. Berikut ini adalah 5 ciri-ciri sehingga suatu kalimat dapat kita katakan efektif.1. Kesepadanan StrukturHal pertama yang harus diperhatikan adalah kelengkapan struktur dan penggunaannya. Inilah yang dimaksud dengan kesepadanan struktur. Ada beberapa hal yang menyangkut ciri-ciri yang satu ini.a. Pastikan kalimat yang dibuat mengandung unsur klausa minimal yang lengkap, yakni subjek dan predikat.b. Jangan taruh kata depan (preposisi) di depan subjek karena akan mengaburkan pelaku di dalam kalimat tersebut.Contoh kalimat efektif dan tidak efektif:· Bagi semua peserta diharapkan hadir tepat waktu. (tidak efektif)· Semua peserta diharapkan hadir tepat waktu. (efektif)c. Hati-hati pada penggunaan konjungsi yang di depan predikat karena membuatnya menjadi perluasan dari subjek.Contoh:· Dia yang pergi meninggalkan saya. (tidak efektif)· Dia pergi meninggalkan saya. (efektif)d. Tidak bersubjek ganda, bukan berarti subjek tidak boleh lebih dari satu, namun lebih ke arah menggabungkan subjek yang sama.Contoh:· Adik demam sehingga adik tidak dapat masuk sekolah. (tidak efektif)· Adik demam sehingga tidak dapat masuk sekolah. (efektif)2. Kehematan KataKarena salah satu syarat kalimat efektif adalah ringkas dan tidak bertele-tele, kalian tidak boleh menyusun kata-kata yang bermakna sama di dalam sebuah kalimat. Ada dua hal yang memungkinkan kalimat membuat kalimat yang boros sehingga tidak efektif. Yang pertama menyangkut kata jamak dan yang kedua mengenai kata-kata bersinonim. Untuk menghindari hal tersebut, berikut ini contoh mengenai kesalahan dalam kata jamak dan sinonim yang menghasilkan kalimat tidak efektif.Contoh Kata Jamak:· Para siswa-siswi sedang mengerjakan soal ujian masuk perguruan tinggi. (tidak efektif)· Siswa-siswi sedang mengerjakan soal ujian masuk perguruan tinggi. (efektif)Ketidakefektifan terjadi karena kata para merujuk pada jumlah jamak, sementara siswa-siswi juga mengarah pada jumlah siswa yang lebih dari satu. Jadi, hilangkan salah satu kata yang merujuk pada hal jamak tersebut.Contoh Kata Sinonim:· Ia masuk ke dalam ruang kelas. (tidak efektif)· Ia masuk ruang kelas.Ketidakefektifan terjadi karena kata masuk dan frasa ke dalam sama-sama menunjukkan arti yang sama. Namun, kata masuk lebih tepat membentuk kalimat efektif karena sifatnya yang merupakan kata kerja dan dapat menjadi predikat. Sementara itu, jika menggunakan ke dalam dan menghilangkan kata masuk—sehingga menjadi ia ke dalam ruang kelas—kalimat tersebut akan kehilangan predikatnya dan tidak dapat dikatakan kalimat efektif menurut prinsip kesepadanan struktur.3. Kesejajaran BentukCiri-ciri yang satu ini menyangkut soal imbuhan dalam kata-kata yang ada di kalimat, sesuai kedudukannya pada kalimat itu. Pada intinya, kalimat efektif haruslah berimbuhan pararel dan konsisten. Jika pada sebuah fungsi digunakan imbuhan me-, selanjutnya imbuhan yang sama digunakan pada fungsi yang sama.Contoh:· Hal yang mesti diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan pengolahannya. (tidak efektif)· Hal yang mesti diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan mengolahnya. (efektif)4. Ketegasan MaknaTidak selamanya subjek harus diletakkan di awal kalimat, namun memang peletakan subjek seharusnya selalu mendahului predikat. Akan tetapi, dalam beberapa kasus tertentu, kalian bisa saja meletakkan keterangan di awal kalimat untuk memberi efek penegasan. Ini agar pembaca dapat langsung mengerti gagasan utama dari kalimat tersebut. Penegasan kalimat seperti ini biasanya dijumpai pada jenis kalimat perintah, larangan, ataupun anjuran yang umumnya diikuti partikel lah atau pun.Contoh:· Kamu sapulah lantai rumah agar bersih! (tidak efektif)· Sapulah lantai rumahmu agar bersih! (efektif)5. Kelogisan KalimatCiri-ciri kalimat efektif terakhir yang amat krusial menyangkut kelogisan kalimat yang kalian buat. Kelogisan berperan penting untuk menghindari kesan ambigu pada kalimat. Karena itu, buatlah kalimat dengan ide yang mudah dimengerti dan masuk akal agar pembaca dapat dengan mudah pula mengerti maksud dari kalimat tersebut.Contoh:· Kepada Bapak Kepala Sekolah, waktu dan tempat kamu persilakan. (tidak efektif)· Bapak Kepala Sekolah dipersilakan menyampaikan pidatonya sekarang. (efektif)D. Syarat-Syarat Kalimat EfektifPada dasarnya, ada empat syarat utama sebuah kalimat dapat dikatakan efektif atau tidak.1. Sesuai PUEBISebuah kalimat efektif haruslah menggunakan ejaan maupun tanda baca yang tepat. Kata baku pun mesti menjadi perhatian agar tidak sampai kata yang kamu tulis ternyata tidak tepat ejaannya.2. SistematisSebuah kalimat paling sederhana adalah yang memiliki susunan subjek dan predikat, kemudian ditambahkan dengan objek, pelengkap, hingga keterangan. Sebisa mungkin guna mengefektifkan kalimat, buatlah kalimat yang urutannya tidak memusingkan. Jika memang tidak ada penegasan, subjek dan predikat diharapkan selalu berada di awal kalimat.3. Tidak Boros dan Bertele-teleJangan sampai kalimat yang kalian buat terlalu banyak menghambur-hamburkan kata dan terkesan bertele-tele. Pastikan susunan kalimat yang kalian rumuskan pasti dan ringkas agar orang yang membacanya mudah menangkah gagasan yang kalian tuangkan.4. Tidak AmbiguSyarat kalimat efektif yang terakhir, kalimat efektif menjadi sangat penting untuk menghindari pembaca dari multiftafsir. Dengan susunan kata yang ringkas, sistemastis, dan sesuai kaidah kebahasaan; pembaca tidak akan kesulitan mengartikan ide dari kalimat kalian sehingga tidak ada kesan ambigu.E. Prinsip dalam Kalimat Efektif1. KesatuanMenurut Amran Tasai dan Arifin, kesatuan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang digunakan. Kesatuan gagasan kalimat ini diperlihatkan oleh kesepadanan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.Ciri-ciri yang kesatuan:a. Adanya subjek dan predikat yang jelas.Hindari menggunakan kata depan (di, ke, sebagai, dll) sebelum subjek.Contoh kalimat kesatuan:· Di rumah adat para petua mendiskusikan masalah kejahatan yang terjadi. (Salah)· Para tetua adat mendiskusikan masalah kejahatan yang terjadi di rumah adat. (Benar)b. Tidak terdapat subjek gandaMisalnya:· Pembangunan jalan itu kami dibantu oleh warga desa. (Salah)· Dalam membangun jalan itu, kami dibantu oleh warga desa. (Benar)c. Tidak menggunakan kata penghubung intrakalimat dalam kalimat tunggalMisalnya:· Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama (Salah)· Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama. (Benar)d. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yangMisalnya:· Bahasa Indonesa yang berasal dari bahasa Melayu.(Salah)· Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.(Benar)2. KehematanMenurut Finoza, kehematan adalah usaha menghindari pemakaian kata yang tidak perlu. Hemat disini berarti tidak menggunakan kata-kata mubazir, tidak menjamakkan kata yang sudah berbentuk jamak, dan tidak mengulang subjek. Dengan menghemat kata, kalimat menjadi padat dan berisi.Contoh kalimat kehematan:· Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke pesta itu. (Salah)· Karena tidak diundang, dia tidak datang ke pesta itu. (Benar)· Presiden SBY menghadiri Rapin ABRI hari Senin (Salah)· Presiden SBY menghadiri rapat ABRI Senin itu. (Benar)· Para tamu-tamu (Salah)· Para tamu/ Tamu-tamu. (Benar)3. KeparalelanMenurut Amran Tasai dan Arifin, keparalelan merupakan kesamaan bentuk yang digunakan dalam kalimat itu. Maksudnya yaitu jika pada kata pertama berbentuk verba, maka kata kedua juga harus berbentuk verba.Materi terkait: Verba Transitif dan Intransitif Serta ContohnyaContoh kalimat keparalelan:· Sang tutor menjelaskan, memaparkan, dan penerapan sebuah aplikasi pada para praktikan. (Salah)· Sang tutor menjelaskan, memaparkan, dan menerapkan sebuah aplikasi pada para praktikan. (Benar).4. KelogisanMenurut Arifin dan Amran Tasai, kelogisan adalah ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.Contoh kalimat efektif kelogisan:· Waktu dan tempat kami persilahkan. (Salah)· Bapak dosen kami persilahkan. (Benar)5. Kepaduan (Koherensi)Menurut Finoza, koherensi adalah terjadinya hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentukan kalimat. Merupakan syarat dari kalimat efektif agar diharapakan nantinya setiap informasi yang diterima tidak terpecah-pecah.Ciri-ciri di contoh koherensi dibawah ini yaitu koherensi yang rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat.Misalnya:· Ikan memakan adik tadi pagi (Salah)· Adik memakan ikan tadi pagi (Benar)Selain itu, satu contoh lagi koherensi yang rusak karena menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.Contoh kalimat kepaduan:· Mereka membahas daripada kehendak rakyat. (Salah)· Mereka membahas kehendak rakyat. (Benar)6. KetepatanMenurut Finoza, ketepatan adalah kesesuaian atau kecocokan pemakaian unsur-unsur yang membentuk suatu kalimat sehingga tercipta pengertian yang bulat dan pasti.Contoh kalimat ketepatan, misalnya dibawah ini tentang kesalahan dalam penggunaan tanda koma:· Sidik lupa bagaimana cara melukis, mengecat dan berjahitan. (Salah)· Sidik lupa bagaimana cara melukis, mengecat, dan menjahit.(Benar)
BAB IIIPENUTUPA. KesimpulanKalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti gagasan yang ada pada pikiran pembicara atau penulis. Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis.a. Unsur-unsur dalam kalimat meliputi : subjek (S), prediket (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket).b. Ciri-ciri kalimat efektif yaitu : Kesepadanan, keparalelan, ketegasan, kehematan, kecermatan, kepaduan, kelogisan.c. Syarat kalimat dikatakan efektif apabila : Sesuai PUEBI, tidak boros, tidak bertele-tele, dan tidak ambigu.B. Daftar Pustaka
No comments:
Post a Comment