Pada
tahun 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mulai
melaksanakan Ujian Nasional (UN) secara online atau yang disebut dengan Ujian
Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Saat itu, UNBK hanya dilakukan secara
terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).
Karena hasilnya cukup memuaskan, Kemendikbud pun memutuskan untuk kembali
melaksanakan UNBK pada tahun 2015 di sekolah-sekolah terpilih.
|
|
1. Menghemat Anggaran Negara
Keuntungan
UNBK satu ini mungkin tidak dapat dirasakan oleh para peserta ujian, tetapi
UNBK 2015 terbukti telah menghemat anggara negara hingga 30%. UNBK dinilai
sangat irit karena tidak perlu mencetak dan mendistribusi naskah soal dan
Lembar Jawaban Komputer (LJK). Negara menyimpan jumlah biaya pencetakan 35 juta
eksemplar naskah soal sebanyak 560 miliar rupiah dan biaya pendistribusian soal
yang mencapai 80 juta rupiah per wilayah.
Anies
Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengatakan bahwa
mengirim kertas sama dengan mengirim batu; berat dan mahal. UNBK membuat
pelaksanaan UN menjadi jauh lebih efisien. Pihak sekolah juga tidak perlu
memperbanyak naskah latihan soal UN di tempat fotokopi. Selama sekolah memiliki
komputer, fasilitas listrik, dan jaringan internet yang memadai, para murid
tingkat akhirnya bisa mengikuti
2. Meminimalisir Terjadinya Kecurangan
Kamu
tentu masih ingat dengan berbagai kasus bocornya soal-soal UN di berbagai
wilayah, entah terjadi pada tahap pencetakan maupun pendistribusian. Salah satu
alasan Kemendikbud menerapkan UNBK adalah untuk meminimalisir terjadinya
kebocoran tersebut. Memang, masih ada kemungkinan sistem tersebut di-hack oleh
para hackers, tetapi Kemendikbud pasti telah menciptakan sistem keamanan yang
berlapis dan firewall yang kuat
Selain
itu, sistem online-nya dirancang agar para peserta tidak mendapat celah untuk
melakukan kecurangan. Secara keseluruhan, soal-soal yang diberikan pada para
peserta UNBK mungkin sama, tetapi jenis soal yang muncul pada layar komputer
tiap anak dapat berbeda. Kemendikbud telah menerapkan sistem acak pada
soal-soal UNBK. Jadi, apabila soal nomer satu pada peserta A berisi tentang
materi X, peserta B bisa saja mendapat soal dengan materi Y.
3. Sistem Online Otomatis
Sebelum
UNBK diterapkan, para peserta UN harus lebih ekstra hati-hati dalam mengerjakan
soal-soal UN. Karena masih menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK), mereka
harus waspada ketika melingkari pilihan jawabannya. Belum lagi harus memastikan
pensil 2B yang digunakan tidak palsu agar jawaban mereka terbaca oleh komputer.
Dengan UNBK, kamu tidak perlu mengalami kekhawatiran serupa.
Sistem
semi-online yang diterapkan dalam UNBK akan langsung menyimpan jawaban dan data
dirimu secara lebih rapi dan terstruktur. Jadi, soal dikirim dari server pusat
secara online melalui jaringan ke server skeolah. Selama UNBK berlangsung, para
peserta akan dilayani oleh server sekolah secara offline. Hasil ujian pun
dikirim kembali dari server sekolah ke server pusat secara online.
4. Waktu Ujian Lebih Lama
Bagi
sebagian besar murid SMA tingkat akhir, UN menjadi hal menakutkan yang menjadi
beban. Seandainya bisa, mungkin mereka sudah meminjam mesin waktu Doraemon dan
pergi ke masa ketika UN telah selesai dilaksanakan. Tetapi, sayangnya kamu
harus menghadapi UN dalam jangka waktu yang lebih lama karena adanya sistem
UNBK yang diterapkan oleh Kemendikbud ini.
Biasanya,
UN berbasis kertas diselenggarakan selama tiga hingga empat hari. Tapi, UNBK
2015 lalu digelar dalam waktu seminggu. Hal ini disebabkan oleh adanya tiga
sesi ujian yang diikuti secara bergantian oleh para peserta UNBK. Kecuali pihak
sekolah memiliki komputer sebanyak jumlah peserta UN, mungkin hal tersebut
tidak perlu dilakukan. Lagi pula, dalam sehari, UNBK dilakukan hanya untuk satu
mata pelajaran. Jadi, manfaatkan hal ini untuk lebih fokus pada pelajaran yang
diujikanpa pada hari itu.
No comments:
Post a Comment