Tuesday, 28 August 2018

Makalah Seni Rupa

A.  Apresiasi Karya Seni Tiga Dimensi
1.     Apresiasi Karya Seni
1.1     Pengertian Apresiasi
              Istilah apresiasi pada dasarnya berasal dari bahasa Inggris yaitu dari kata “appreciation” yang artinya penghargaan, penilaian, dan pengertian. Jika diartikan dari asal katanya, maka apresiasi merupakan aktivitas penilaian yang berupa penghargaan terhadap sesuatu hal yang berbau dengan dunia karya seni atau pun karya sastra.
              Selain pengertian di atas, berikut merupakan beberapa pengertian kata apresiasi yang coba diutarakan oleh para ahli.
1.      Kamus Besar Bahasa Indonesia
         Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, apresiasi adalah setiap penilaian baik; penghargaan; seperti misalnya – terhadap karya – karya sastra atau pun karya seni.

2.      Hornby
         Menurut Hornby, dalam Sayuti, pengertian apresiasi mengacu kepada pengertian pengenalan dan pemahaman yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan yang memberikan penilaian.

3.      Aminuddin
         Menurut Aminuddin, apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau pun kepekaan batin dan pengakuan terhadap unsur-unsur keindahan yang diungkapkan oleh pengarangnya.

4.      Effendi
         Menurut Effendi, pengertian apresiasi merupakan aktivitas menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.


1.2     Fungsi Apresiasi Seni
Ada empat fungsi yang menjadi utama dan dapat kamu kenali agar lebih memahami mengenai apresiasi pada seni. Keempat fungsi tersebut sebagai berikut.
1. Untuk Meningkatkan Kecintaan Terhadap Karya Seni
Fungsi pertama adalah untuk meningkatkan kecintaan terhadap karya seni. Atau dapat juga dikatakan sebagai ‘sarana’ yang mampu meningkatkan rasa cinta terhadap karya seni khususnya karya seni yang dibuat oleh anak-anak Indonesia.
2. Untuk Menciptakan Penilaian
Fungsi yang kedua adalah untuk menciptakan penilaian. Penilaian ini berupa sarana dalam menikmati, memberi empat, mendapatkan hiburan, serta menambah wawasan dan pengetahuan atau edukasi.
3. Untuk Mengembangkan Kemampuan
Fungsi ketiga adalah untuk mengembangkan kemampuan. Kemampuan yang merupakan keanggupan diri sendiri dapat berupa mampu menciptakan karya seni atau lain-lain. Sebagai penikmat seni yang memberi apresiasi, terkadang banyak bagian dari kegiatan apresiasi tersebut yang mengasah kemampuan.
4. Untuk Membangun Hubungan
Fungsi keempat atau terakhir ialah untuk membangun hubungan. Hubungan tersebut berupa hubungan timbal-balik yang positif antara pembuat seni dengan penikmat seni.

1.3     Tujuan Apresiasi
               Tujuan pokok dari apresiasi pada seni berupa memperkenalkan atau mempublikasi karya seni tersebut agar karya seni lebih dapat dinikmati oleh publik atau masyarakat juga maksud serta tujuannya tersampaikan.
Terkadang sebagai penikmat seni yang memang sekadar penikmat, kita tidak langsung dapat mengerti maksud dan tujuan dibuatnya karya seni tersebut.
Nah, dengan adanya apresiasi seni maka kita dapat lebih mudah mengerti maksud dan tujuannya. Sementara itu untuk tujuan akhir, ada tiga poin. Ketiga poin tujuan akhir tersebut sebagai berikut.
a.      Mengembangkan nilai estetika karya seni
        Estetika adalah kepekaan terhadap keindahan atau seni. Hal ini membuat kita lebih cepat menyadari unsur seni pada karya seni.
b.      Mengembangkan daya kreasi
        Selain estetika, tujuan akhir berikutnya ialah mengembangkan kreasi. Karena kita menjadi lebih peka dan mengerti maksud dari karya seni, maka daya kreasi kita juga dapat bertambah.
c.       Menyempurnakan
        Apresiasi pada karya-karya seni juga sebagai ‘penyempurna’ dari karya-karya seni itu sendiri.

1.4     Tingkatan Apresiasi
           Dalam apresiasi seni atau karya seni terdapat tingkatan-tingkatan yang mendeskripsikan apresiasi seni tersebut. Tiga tingkatan dalam apresiasi seni meliputi Empatik, Estetis, dan Kritik.
Berikut penjelasan mengenai tiga tingkatan tersebut beserta contohnya.
a.        Tingkat Empatik
      Empatik dalam kamus berarti melibatkan pikiran dan perasaan. Tingkat apresiasi seni ini lebih berupa tangkapan indrawi aatau tangkapan dari indera-indera.
      Contohnya ketika mendengar sebuah karya seni musik, kita merasa nyaman dan betah mendengar karya tersebut, lalu timbulah penilaian bahwa karya tersebut bagus.
b.       Tingkat Estetis
      Estetis dalam kamus merupakan penilaian terhadap keindahan tersebut. Tingkat apresiasi seni ini berupa pengamatan dan penghayatan.
      Di tingkat ini kita sebagai penikmat seni memberi apresiasi yang lebih pada pengamatan, bagaimana bentuk dari karya seni tersebut, atau mengapa karya seni tersebut dapat menjadi karya seni.
      Contohnya saat menyaksikan pagelaran seni teater, kita berpikir bagaimana adega tersebut dapat dibuat dan apa fungsi daria degan tersebut. Apakah pas dan bagus, atau tidak.
c.        Tingkat Kritik
      Kamu pastinya sudah dapat membayangkan bagaimana tingkatan pada tingkat apresiasi ini. Kritik di sini dapat berbentuk klarifikasi, deskripsi, menjelaskan, menganalisis, evaluasi, hingga mengambil kesimpulan.
        Contohnya kamu dapat melihat juri-juri dalam ajang-ajang yang ada di televisi misalnya ajang bernyanyi.
        Tingkat apresiasi mereka sudah berada di tingkat ini di mana akan memberi masukan, menilai dengan tidak lupa memberi penjelasan, dan memberi evaluasi juga kesimpulan.

1.5     Contoh Apresiasi Seni
           Contohnya, ada seorang penikmat seni yang diundang untuk datang ke pameran seni yang digelar oleh beberapa seniman. Penikmat seni tersebut datang karena ini mengenal dan melihat hasil karya seni yang dipamerkan.
           Selanjutnya, saat melihat-melihat, beberapa karya seni mampu menarik perhatian penikmat seni tersebut dan membuatnya memberi penilaian dari sudut pandangnya.
           Menurutnya beberapa karya tersebut menarik, tetapi kurang warna. Dan dia mengungkapkan penialiannya tersebut pada teman-teman lain juga sang seniman.

2.     Karya Seni Rupa
2.1     Pengertian Karya Seni Rupa
          Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.
          Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts.seni rupa terbagi menjadi dua bagian yakni senirupa murni dan senirupa terapan.



2.2     Macam-macam Karya Seni Berdasarkan Fungsinya
1.       Seni Murni
      Seni murni adalah Sebuah kaya seni yang di buat dengan tujuan menuangkan ide dan imajinasi dari seorang yang menciptakannya. Karya seni rupa ini hanya mengutamakan keindahannya saja.

2.      Seni Terapan
      Seni rupa terapan adalah karya seni rupa yang tidak hanya digunakan untuk hiasan atau pajangan di rumah, tetapi bisa memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari.

2.3     Fungsi Karya Seni
          Seni rupa berdasarnya fungsinya itu di bagi menjadi 2 yaitu: fungsi individu dan fungsi sosial
1. Fungsi Individu
      Fungsi seni rupa individu yaitu bersifat untuk memuaskan diri sendiri. Artinya seseorang menciptakan karya seni itu hanya untuk mengekspresikan dirinya untuk memuaskan batin.
      Tentu saja hasil karyanya akan memancarkan aura yang sangat mendalam karena merupakan hasil luapan ekspresi dari seseorang entah itu sedih, senang, dan lain sebagainya.
2. Fungsi Sosial
      Sedangkan fungsi rupa sosial dari seni merupakanyang memberikan kepuasan banyak orang, misalnya saja seni dalam bidang rekreasi yang bisa dinikmati banyak orang, seni dalam komunikasi agar bisa menarik di hadapan banyak orang, serta seni di bidang rohani.
3.     Seni Rupa Tiga Dimensi
3.1 Pengertian Seni Rupa 3 Dimensi
            Seni rupa tiga dimensi adalah seni rupa yang memerlukan ruang, karena mempunyai ukuran panjang, lebar, dan tebal. Karena seni rupa tiga dimensi tidak mempunyai bidang datar dan tidak datar, sehingga penempatannya berdiri lepas artinya tidak tergantung pada dinding sebagai dasarnya.
            Seni rupa tiga dimensi adalah karya seni rupa yang mempunyai ukuran lebar, panjang, dan tinggi; atau karya seni yang memiliki volume dan menempati ruang. Contoh karya seni rupa tiga dimensi adalah keramik, patung dsb.

3.2 Fungsi Seni Rupa 3 Dimensi
            Karya seni rupa memiliki dua fungsi yaitu Fungsi estetis dan fungsi Praktis sebagai berikut.
1.         Pemenuhan kebutuhan yang bersifat praktis (kegunaan), yaitu karya yang fungsi pokoknya sebagai benda pakai, selain juga memiliki nilai hias. Misalnya, perabotan rumah tangga, seperti meja dan kursi, lemari, dan tekstil.
2.         Pemenuhan kebutuhan yang bersifat estetis (keindahan), yaitu fungsi yang semata-mata sebagai benda hias. Misalnya, karya batik atau tenun yang dibuat khusus untuk hiasan dinding dan benda-banda kerajinan untuk penghias ruangan, seperti topeng, patu ng, dan vas bunga.

3.3 Unsur Unsur Seni Rupa 3 Dimensi
            Seni rupa dibangun oleh sejumlah unsur yang membentuk kesatuan yang padu sehingga karyanya dapat dinikmati secara utuh. Unsur-unsur dasar karya seni rupa adalah unsur-unsur yang digunakan untuk mewujudkan sebuah karya seni rupa. Unsur-unsur ini diantaranya antara lain adalah titik, garis, bidang, bentuk, ruang, warna, tekstur, dan gelap terang.
1). Titik
        Titik adalah unsur seni rupa yang paling dasar. Titik dapat melahirkan suatu wujud dari ide-ide atau gagasan yang kemudian akan melahirkan garis, bentuk, atau bidang. Teknik lukisan yang menggunakan kombinasi berbagai variasi ukuran dan warna titik dikenal dengan sebutan Pointilisme.
2).   Garis
        Menurut jenisnya, garis dapat dibedakan menjadi garis lurus, lengkung, panjang, pendek, horizontal, vertikal, diagonal, berombak, putus-putus, patah-patah, spiral dan Iain-Iain. Kesan yang ditimbulkan dari macam-macam garis dapat berbeda-beda, misalnya garis lurus berkesan tegak dan keras, garis lengkung berkesan lembut dan lentur, garis patah-patah berkesan kaku, dan garis spiral berkesan lentur.
        Garis dapat juga memberikan kesan watak tertentu sehingga dapat digunakan sebagai perlambangan, seperti:
- Garis tegak melambangkan keagungan, kestabilan;
- Garis miring mengingatkan pada kegoncangan, tidak stabil, gerak;
- Garis tegas, kuat, terpatah-patah mengesankan kekuatan;
- Garis halus, melengkung-lengkung berirama mengesankan kelembutan, kewanitaan.
Sedangkan menurut wujudnya garis dapat dibedakan menjadi:
- Garis nyata, merupakan garis yang dihasilkan dari coretan atau goresan lengkung.
- Garis semu, merupakan garis yang muncul karena adanya kesan balans pada bidang,    warna atau ruang.
3).   Bidang
        Bidang merupakan pengembangan garis yang membatasi suatu bentuk sehingga membentuk bidang yang melingkupi dari beberapa sisi. Bidang mempunyai sisi panjang dan lebar, serta memiliki ukuran.
4).   Bentuk
        Bentuk juga dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:
a.    Bentuk geometris
  Bentuk geometris merupakan bentuk yang terdapat pada ilmu ukur meliputi:
- Bentuk kubistis, contohnya kubus dan balok.
- Bentuk silindris, contohnya tabung, kerucut, dan bola.
b.  Bentuk nongeometris
   Bentuk nongeometris berupa bentuk yang meniru bentuk alam, misalnya manusia, tumbuhan, dan hewan.
5).   Ruang
        Ruang dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: Ruang dalam bentuk nyata, misalnya ruangan pada kamar, ruangan pada patung. Ruang dalam bentuk khayalan (ilusi), misalnya ruangan yang terkesan dari sebuah lukisan.
6).   Warna
        Kesan yang timbul oleh pantulan cahaya pada mata disebut warna. Warna dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
a.       Warna pokok atau primer, yaitu warna yang tidak berasal dari warna apapun, meliputi warna merah, kuning, dan biru.
b.      Warna sekunder merupakan campuran dari warna primer.
Contoh:
         merah + kuning : jingga
         biru + kuning     : hijau
         merah + biru      : ungu
c.       Warna tertier merupakan hasil campuran antara warna primer dan warna sekunder.
Contoh:
         kuning + hijau    : kuning kehijau-hijauan
         biru + ungu        : ungu kebiruan
         jingga + merah   : jingga kemerahan
Selain jenis-jenis warna di atas terdapat pula warna netral, yaitu warna putih dan hitam.
7).   Tekstur
        Tekstur adalah sifat dan keadaan suatu permukaan bidang atau permukaan benda pada sebuah karya seni rupa. Setiap benda mempunyai sifat permukaan yang berbeda. Tekstur dibedakan menjadi tekstur nyata dan tekstur semu. Tekstur nyata adalah nilai raba yang sama antara penglihatan dan rabaan. Sedangkan tekstur semu adalah kesan yang berbeda antara penglihatan dan perabaan.
8).   Gelap Terang
        Suatu objek bisa memiliki intensitas cahaya yang berbeda pada setiap bagiannya. Demikian pula pada karya seni rupa. Seperti lukisan pemandangan alam. Adanya perbedaan intensitas cahaya akan menimbulkan kesan mendalam.




3.4 Teknik-Teknik Seni Rupa 3 Dimensi
            Daerah-daerah di Indonesia memiliki bahan dan media yang bermacam-macam dalam teknik membuat karya seni rupa 3 dimensi, semua berdasarkan lingkungan daerah tersebut.
Berikut ini adalah teknik-teknik yang biasa digunakan dalam pembuatan karya seni rupa 3 dimensi:
1.      Teknik Aplikasi
      Teknik Aplikasi merupakan sebuah karya hias yang digunakan dalam seni menjahit dengan cara menempelkan bermacam-macam kain yang sudah di gunting yang seperti bunga, bintang, boneka dan bentuk lainnya di sebuah kain sebagai hiasan untuk mempercantik.
2.      Teknik Mozaik
      Teknik Mozaik merupakan sebuah teknik menggambar dengan menggunakan suatu bentuk geometris tertentu. Bentuk geometris digunakan untuk mengganti bahan pewarna.
3.      Teknik Merakit
      Teknik Merakit merupakan sebuah karya seni dengan cara menyambungkan beberapa potongan bahan-bahan. Cara ini bisa disebut dengan merakit, rakitan adalah hasil karyanya.
4.      Teknik Pahat
      Teknik Pahat merupakan teknik yang membuat karya seni dengan membuang bahan-bahan yang tidak digunakan. Biasa dibuat menggunakan alat martil, pahat, kikir dan sebagainya.
5.      Teknik Cor/Menuang
      Teknik cor/menuang merupakan karya seni yang dilakukan dengan cara menuang bahan cair ke sebuah alat cetakkan. Bahan cair yang biasa digunakan terbuat dari semen, karet, logam dan sebagainya.







B.  Jenis Karya Seni Rupa Tiga Dimensi
1.     Seni kriya
           Seni kriya merupakan salah satu jenis karya seni rupa 3 dimensi yang juga merupakan kombinasi seni rupa terapan dan seni rupa murni. Seni kriya dibuat tidak hanya untuk sebuah fungsi, tetapi juga memandang nilai estetika dari karya yang dibuat. Secara singkat, seni kriya dapat diartikan sebagai seni kerajinan tangan. Orang yang membuat seni kriya benar-benar mengandalkan keahlian tangannya agar karya yang diciptakannya memiliki fungsi dan elok saat dilihat.

           Istilah seni kriya mungkin terdengar elit, karena pada kenyataannya seni kriya itu memang sesuatu yang bisa dianggap mewah. Biasanya, hasil seni kriya sering kita temukan di tempat-tempat yang berhubungan dengan pariwisata, misalnya saja di lobby hotel atau rumah makan. Kita bisa menemukan kursi, meja, atau guci yang tidak hanya dipakai sesuai fungsinya, tetapi juga untuk kebutuhan memanjakan mata para pengunjungnya.

           Selain di kedua tempat tersebut, seni kriya juga dapat dilihat pada rumah-rumah yang memakai gaya Jawa atau Bali. Seni kriya yang dipakai pada rumah-rumah dengan gaya tersebut biasanya terletak pada ukiran pintu, tembok, atau langit-langit rumah. Di bawah ini akan dipaparkan beberapa contoh seni kriya 3 dimensi.
1.      Anyaman
      Kegiatan dalam seni yang satu ini adalah mengatur bahan dasar saling tindih atau menyilang. Bahan-bahan yang dipakai biasanya adalah bahan yang ringan, mudah dipindahkan, dan lentur (mudah dibentuk). Bahan dasar yang dipakai dalam kerajinan ini sangat beragam, bisa dari daun, bilahan bambu, kayu rotan, atau bisa juga bahan sintetis.
     Tetapi, jika ingin anyaman dalam bentuk 3 dimensi yang ketahanannya baik, yang umum dipakai adalah bambu, rotan, dan bahan sintetis. Hasil anyaman 3 dimensi dari bambu pada umumnya berupa perabotan rumah tangga, tetapi seiring perkembangan zaman, kreativitas anyaman bambu kini merambah ke dunia fashion.
     Perabotan rumah tangga yang dibuat dari bahan bambu sudah kita kenal, apalagi bagi kita yang pernah melihat dapur di pedesaan, maka kita akan banyak menjumpai perabotan rumah tangga yang dibuat dari bilahan bambu. Contohnya :
·         Nyiru
·         Tempat nasi
·         Tudung saji
·         Topi petani
·         Tempat alat-alat sembahyang
·          
     Lain dengan pedesaan, di perkotaan hasil anyaman bambu diolah menjadi lebih kreatif lagi dan bahkan menjadi tren. Hasil anyaman bambu zaman sekarang bisa berupa :Anyaman :
·      Tas
·      Topi
·      Dompet
·      Tudung lampu
·      Hiasan dinding.
     Selain bilahan bambu, rotan bisa menjadi alternatif dalam pembuatan kerajinan 3 dimensi. Rotan merupakan tumbuhan menjalar, panjang, dan tumbuh liar di hutan. Kelenturan rotan sangat mendukung untuk dapat dijadikan anyaman yang memiliki fungsi pakai, tahan lama, dan juga indah. Hasil anyaman rotan masih banyak kita jumpai di masa sekarang ini. Contohnya kursi, meja, keranjang, dan bahkan ada yang lebih kreatif lagi, yaitu sandal dan sepatu.

2. Kerajinan Keramik
Jenis karya seni rupa 3 dimensi yang satu ini dulunya terbuat dari tanah liat yang harus diproses dengan cara dibakar, contohnya gerabah dan genteng. Tetapi dengan majunya teknologi, bahan dasar keramik digabung dengan logam kimia tertentu, sehingga membentuk bahan dasar yang baru. Sifat keramik bisa kita lihat dengan jelas, sifatnya mudah pecah, kaku, dan keras. Karya seni keramik biasanya terlihat mengkilap dan cenderung mahal.
      Kerajinan keramik di Indonesia cukup mudah ditemui. Kerajinan keramik tersebut bisa kita lihat di daerah Purwakarta, Malang, dan Minahasa. Bentuk-bentuk karya keramik di 3 daerah itu sangat beragam. Di Minahasa, tepatnya di Desa Pulutan, bentuk kerajinan keramik di desa ini adalah beragam jenis pot, pajangan, dan wadah. Selain Minahasa, daerah Purwakarta juga terkenal dengan kerajinan keramiknya.
      Beragam bentuk kerajinan keramik dibuat di daerah ini, mulai dari yang berfungsi sebagai pajangan hingga perabotan rumah tangga. Masih di dalam Pulau Jawa, ada daerah yang juga eksis karena kerajinan keramiknya, tepatnya daerah Dinoyo, Malang. Pada awalnya, keramik daerah Dinoyo menggunakan bahan dasar tanah liat. Seiring dengan berjalannya waktu, dan masuknya budaya Cina, kerajinan keramik di daerah ini memakai kombinasi bahan porselen.
3. Kriya Logam
      Seni kriya logam di negeri kita ini merupakan warisan budaya dari nenek moyang yang sudah mendarah daging. Sejak zaman dahulu, khususnya zaman pemerintahan yang masih berbentuk kerajaan, kriya jenis ini sudah banyak dipakai. Misalnya saja senjata untuk penjagaan kerajaan atau saat berperang, semuanya terbuat dari logam. Contoh senjata tersebut adalah keris, pedang, tombak, dan tameng. Ada juga alat-alat musik yang dibuat dari logam, seperti gong dan gamelan. Perabotan rumah tangga pun ada beberapa yang berbahan dasar logam.
      Pada saat ini pun, penggunaan seni kriya logam sangatlah eksis. Tekstur yang padat dan kuat, membuat logam dipilih sebagai bahan dasar yang cocok untuk peralatan rumah tangga. Contoh peralatan dapur yang dimaksud adalah sendok, garpu, panci, wajan, dan pisau. Keberadaan hasil kriya logam tersebut sangat dibutuhkan di setiap rumah tangga.


4. Seni Patung
        Patung, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, adalah tiruan bentuk hewan, manusia, atau sebagainya dengan cara dipahat pada batu, kayu, atau bahan lainnya. Jenis seni rupa 3 dimensi ini memang sengaja dibuat untuk kebutuhan estetika, lebih tepatnya pembuatan sebuah mahakarya.
        Seni pahatan ini juga merupakan warisan budaya di Indonesia. Contoh seni patung yang bersejarah di Indonesia adalah patung Martha Christina Tiahahu di Maluku dan patung Dewa Wisnu di kawasan wisata Jimbaran, Bali.
        Seperti yang disebutkan sebelumnya, patung umumnya berbahan dasar kayu atau batu. Patung yang dibuat dari kayu banyak digunakan sebagai cinderamata. Patung kayu bisa dibuat berukuran kecil, medium, atau besar, tetapi jarang ada patung kayu yang besarnya seperti mahakarya patung batu. Jenis patung yang terbuat dari kayu pada proses akhir pembuatannya tidak diwarnai, hanya diberi pelitur saja, tetapi saat ini sudah banyak patung kayu yang sudah mengaplikasikan teknik cat warna.
        Berikutnya adalah patung batu yang keberadaanya sudah tidak diragukan lagi. Sejak zaman dahulu kala pun, patung yang terbuat dari batu nyata ada dalam kehidupan kita. Sebagian besar seni patung di Indonesia memiliki sejarahnya sendiri.
        Selain 2 patung yang sudah disebutkan diatas, masih banyak patung bersejarah lainya, seperti Arca Dewa Ganesha, Arca Dewi Durga, dan Arca Bhairawa. Selain difungsikan sebagai mahakarya, beberapa seni patung dibuat sebagai media pemujaan, contohnya di negeri India dan di provinsi Bali.







C.  Simbol Karya Seni Tiga Dimensi
Simbol adalah lambang yang mengandung makna atau arti, simbol berarti menarik kesimpulan, berarti atau memberi kesan. Salah satu pengertian “simbol” adalah makna yang dikandung dalam karya seni rupa baik pada wujud objeknya maupun pada unsur-unsur rupanya. Misalnya saja unsur warna sering digunakan oleh perupa sebagai simbol dari sesuatu. Warna merah misalnya, digunakan untuk menyimbolkan keberanian, putih untuk menyimbolkan kesucian, hijau untuk menyimbolkan kesuburan, dan sebagainya. Selain unsur warna simbol dalam seni rupa tiga dimensi antara lain sebagai berikut.
Diantara karya seni rupa tiga dimensi yang dapat memiliki makna dan simbol tertentu. adalah patung, tugu dan monumen. Kebiasaan untuk membuat patung, tugu dan, monumen yang melambangkan atau menyimbolkan sesuatu sudah dilakukan orang sejak zaman dahulu.Karya seni rupa tiga dimensi ini ada yang terbuat dari kayu, batu dan logam. Beberapa contoh patung tugu dan monumen yang ada di Indonesia beserta simbolnya antara lain sebagai berikut.
A. Simbol Dalam Patung
Patung adalah benda tiga dimensi karya manusia yang diakui secara khusus sebagai suatu karya seni. Orang yang menciptakan patung disebut pematung. Dalam sebuah patung terirat makna dan simbol sesuai dengan tujuan pembuatan patung tersebut. Berikut ini beberapa contoh patung dan simbol yang tersirat di dalamnya.
1. Patung Selamat Datang
Patung Selamat Datang dibangun untuk menyambut para atlit peserta Asian Games IV tahun 1962. Patung ini ada di depan gedung Hotel Indonesia yang mana berdiri persis diatas air mancur bunderan HI. Sesuai dengan namanya, patung ini berdiri untuk memberikan selamat datang buat para pendatang karena memang patung ini menghadap ke arah Kota (Utara) sebagai pusat bisnis, perdagangan dan pendatang dari pelabuhan waktu itu.
2. Patung Arjuna Wijaya/ Patung Asta Brata
Patung Arjuna Wijaya yang dibangun Agustus 1987 ini menggambarkan Arjuna dalam perang Baratayudha yang kereta perangnya dikendalikan Batara Kresna. Kereta tersebut ditarik delapan kuda, yang melambangkan delapan ajaran kehidupan yang diidolai oleh Presiden Soeharto. Asta Brata itu meliputi falsafah bahwa hidup harus mencontoh bumi, matahari, api, bintang, samudra, angin, hujan dan bulan.
3. Patung Dirgantara
Patung yang berada di daerah pancoran ini dibuat atas permintaan Bung Karno untuk menampilkan keperkasaan dan kekuatan angkatan udara bangsa Indonesia. Patung ini menghadap ke Utara dengan tangannya mengacung ke bekas Bandar Udara Internasional Kemayoran.
4. Patung Catur Muka
Patung Catur Muka (patung empat wajah). Patung ini berdiri pada lintas jalan di depan kantor Walikota Denpasar dan dibuat pada tahun 1973. Disebut Catur Muka (Empat Wajah) karena memiliki empat kepala menghadap ke empat penjuru mata angin. berdiri di atas wujud bunga teratai atau padma sebagai simbolisme reinkarnasi-Nya guru. Perwujudan empat muka adalah simbolisme dari pemegang kekuasaan pemerintahan yang dilukiskan dalam keempat tangannya. Ada tangan pemegang aksmala atau genitri  yang bermakna bahwa pusat segalanya adalah kesucian dan ilmu pengetahuan.
Ada tangan yang memegang cemeti dan sabet sebagai simbol ketegasan dan keadilan harus ditegakkan oleh pemerintah. Cakra artinya ‘barangsiapa yang melanggar hukum dan peraturan harus dihukum’. Sungu artinya pemerintahan berpegang pada penerangan atau undang-undang. Tali pada badan simbol reinkarnasi, artinya ‘mengetahui keadaan sebelum dan sesudah’.
Masing-masing wajah dalam Patung Catur Muka mengarah ke empat penjuru mata angin. Wajah atau sosok yang menghadap ke timur dimaksudkan sebagai Dewa Iswara, simbol pemberi kebijaksanaan. Dewa Brahma menghadap ke selatan sebagai penjaga ketentraman. Dewa Mahadewa menghadap ke barat, pemberi kasih sayang. Dewa Wisnu menghadap ke utara sebagai penyuci jiwa manusia.

5. Patung Pahlawan
Patung pahlawan, Patung ini dibuat buat ngasih penghargaan pada para pejuang kemerdekaan Indonesia, dilambangin dengan seorang laki-laki yang make caping, nyandang senapan dan lagi minta restu pada wanita yang ada disisinya untuk maju ke medan perang. diresmikan tahun 1963 oleh Presiden Soekarno dan pada papan di monumen ini tertulis "Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah bangsa yang besar".
6. Patung Garuda Wisnu Kencana
Patung Garuda Wisnu Kencana berlokasi di Bukit Unggasan - Jimbaran, Bali. Patung tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pemelihara (Sthiti), mengendarai burung Garuda. Tokoh Garuda dapat dilihat di kisah Garuda & Kerajaannya yang berkisah mengenai rasa bakti dan pengorbanan burung Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang akhirnya dilindungi oleh Dewa Wisnu.
7. Patung Jenderal Sudirman (Pacitan)
Patung ini terletak di Sobo, Pakisbaru, Nawangan Pacitan yaitu sekitar 34 km dari pusat kota Pacitan. Patung Jenderal Soedirman selalu berdiri tegak dengan pedang katana di sebelah kirinya. Dengan pakaian seperti tentara Jepang, dia berdiri tegak tepat menghadap arah gerbang seperti sedang mengawasi sesuatu, atau menjadi simbol di dalam museum Pembela Tanah Air (PETA) sendiri. Soedirman menjadi figur teladan dan ikon TNI. Salah satunya karena dia terpilih sebagai panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang pertama dan sekarang berubah nama menjadi TNI.
8. Patung Pemuda Membangun
Patung Pemuda Membangun adalah patung yang terletak di bunderan air mancur Senayan. Dinamakan pemuda membangun karena patung tersebut menggambarkan seorang pemuda membawa obor dengan semangat yang berkobar. Makna obor adalah sebagai alat penerang dan dalam artian filosofis adalah untuk menerangi hati dan jiwa yang gelap. Diharapkan kaum muda mengambil peran penting dalam pembangunan bangsa. Partisipasi aktif dalam memajukan tanah air sangat diperlukan karena melalui tangan pemuda lah terletak cita-cita dan harapan masa depan.
B. Monumen
Monumen adalah jenis bangunan yang dibuat untuk memperingati seseorang atau peristiwa yang dianggap penting oleh suatu kelompok sosial sebagai bagian dari peringatan kejadian pada masa lalu. Beberapa monumen yang ada beserta simbol yang dimiliki antara lain sebagai berikut.
1. Manumen Pancasila Sakti
Monumen ini dibangun dengan tujuan mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari ancaman ideologi komunis. Tujuh patung Pahlawan Revolusi Monumen Pancasila Sakti berdiri berderet membentuk setengah lingkaran, dari timur ke barat, yaitu Kapten P.A. Tendean, Letjen S. Parman, Letjen M.T. Harjono, Jenderal Ahmad Yani, Letjen R. Soeprapto, Mayjen D.I. Pandjaitan, dan Mayjen Soetojo S.
2. Monumen Gatot Subroto (Purwokerto)
Monumen ini berwujud jenderal Gatot Subroto menunggang kuda dengan tegap dan gagah perkasa, menatap ke depan dengan kendali ditangan  Tatapan ke depan melambangkan optimisme dan tali kendali yang dipegang ditangan melambangkan beliau sebagai pemimpin atau komandan.  Tegangan otot pada posisi kaki kuda serta sikap tegap Jenderal Gatot Subroto terlihat berwibawa.
3. Monumen Nasional (Monas)
Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen yang terletak di Ibu Kota Republik Indonesia, yaitu Jakarta. Pembangunan monumen nasional bertujuan untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan RI 1945. Dengan adanya monumen nasional tersebut Bangsa Indonesia berharap bisa terus membangkitkan semangat patriotisme bangsa dimasa yang akan datang. Monumen ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.
4. Monumen Palagan Ambarawa (Jawa tengah)
Monumen Palagan Ambawara merupakan simbol untuk mengenang sejarah pertempuran Palagan Ambarawa pada tanggal 12 Desember - 15 Desember 1945. Pasukan Sekutu yang terdesak dari Magelang mengadakan pengunduran ke Ambarawa, dan pasukan TKR yang dipimpin Kolonel Soedirman berhasil menghancurkan Sekutu pada tanggal 15 Desember 1945, di mana kini diperingati sebagai Hari Infanteri. Gambaran singkat sejarah pertempuran bisa dilihat pada relief yang dibuat pada dinding Monumen Palagan Ambarawa.
5. Monumen Jogja Kembali
Monumen Jogja Kembali yang biasa disingkat dengan Monjali ini berada di Yogyakarta. Monumen berbentuk kerucut ini dibangun pada tanggal 29 juni 1985.Monumen Jogja Kembali merupakan simbol atau lambang untuk peristiwa ditariknya tentara pendudukan Belanda dari Ibukota RI, Yogyakarta pada saat itu, yaitu tanggal 29 Juni 1949. Dimana monument ini adalah tanda atau tetenger dari peristiwa tersebut.
6. Monumen Bandung Lautan Api
Monumen ini terletak di kawasan Lapangan Tegallega. Sudah jelas monumen ini didirikan untuk memperingati peristiwa Bandung Lautan Api, dimana terjadi pembumi hangusan Bandung Selatan yang dipimpin oleh Muhammad Toha.
7. Monumen Ahmad Yani
Monumen Ahmad Yani berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Seperti namanya, monumen ini dibuat untuk mengenang pengabdian dan perjuangan dari Jenderal Anumerta Ahmad Yani. Perjuangannya yang hebat pantas dijadikan teladan bagi generasi penerus bangsa, terutama bagi para prajurit Tentara Nasional Indonesia.
8. Monumen Slamet Riyadi (Surakarta)
Monumen Slamet Riyadi berada di tengah Kota Surakarta, Jawa Tengah. Monumen yang berupa patung Slamet Riyadi ini menjadi bentuk penghargaan terhadap jasa Letnan Kolonel Slamet Riyadi. Tempat ini merupakan markas besar pasukan Slamet Riyadi yang berjuang di tahun 1948.
C. Tugu
Tugu adalah sebuah tiang besar dan tinggi yang terbuat dari batu, bata, dan sebagainya. Tugu peringatan biasanya dibuat untuk memperingati suatu peristiwa bersejarah. Beberapa tugu yang ada di Indonesia beserta simbolnya antara lain sebagai berikut.
1. Tugu Muda (Semarang)
Tugu ini dibangun untuk mengenang perjuangan pemuda Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan melawan Jepang yang terkenal dengan peristiwa Pertempuran 5 Hari di Semarang. Monumen ini mengingatkan pada peristiwa heroik Pertempuran 5 Hari di Semarang melawan tentara Jepang tahun yang silan. Monumen Tugu Muda dibangun untuk memperingati pertempuran yang terjadi di Semarang pada 14 hingga 18 Oktober 1945 selama 5 han. Sebagai bukti mereka kala itu dengan Semangat Berani Mati mempertahankan kemerdekaan negara yang baru beberapa pekan di Proklamasi di Jakarta.

2. Tugu Yogyakarta
Tugu Yogyakarta adalah salah satu lambang atau identitas dari kota Yogyakarta yang terletak di perempatan Jl. Jenderal Sudirman dan Jl. Mangkubumi. Sultan Hamengkubuwono I adalah pendiri Keraton Yogyakarta yang sekaligus juga pendiri Tugu ini. Tugu. Konon tugu ini merupakan simbol penghubung laut selatan, Keraton Yogyakarta dan gunung Merapi. Ketika melakukan meditasi, Sultan Yogyakarta menggunakan Tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.
3. Tugu Khatulistiwa
Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument terletak di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Tugu ini juga menjadi salah satu simbol dari kota Pontianak yang juga dijadikan sebagai ikon wisata sejarah. Pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September biasanya terjadi peristiwa titik kulminasi Matahari, yakni peristiwa alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa dimana posisi matahari tepat berada di atas kepala sehingga semua bayangan dari benda-benda di bumi tidak akan nampak.
4. Tugu Proklamasi
Terletak di kompleks Taman Proklamasi di Jl. Proklamasi (dahulunya disebut Jl. Pegangsaan Timur No. 56), Jakarta Pusat. Tugu ini didirikan sebagai tugu peringatan proklamasi kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Di kompleks ini juga berdiri dengan megah patung Soekarno-Hatta ketika membacakan naskah proklamasi. Diantara kedua patung proklamator tersebut, dibangun pula naskah proklamasi yang terbuat dari lempeng batu marmer hitam, beserta dengan susunan dan bentuk tulisan yang menyerupai ketikan naskah aslinya.
5. Tugu Pahlawan
Tugu Pahlawan, adalah sebuah tugu yang menjadi markah tanah Kota Surabaya. Tubuh tugu berbentuk lengkungan-lengkungan sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dimana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.
6. Tugu Watu-Prompong (Banyumas)
Tugu Watu terletak di Grumbul Prompong Desa Kutasari Kecamatan Baturaden Banyumas. Tugu ini dibangun pada tahun 1979 oleh para eks Pasukan Pelajar Indonesia Merdeka atau yang lebih dikenal dengan Pasukan IMAM ( Indonesia Merdeka atau Mati ), untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa Indonesia khususnya dari Pasukan IMAM dalam mengusir penjajah yang ingin kembali berkuasa di Indonesia Tugu dari batu menggambarkan kekerasan dan ketahanan daya juang masyarakat Indonesia dalam menghadapi penjajahan. Ketahanan dan daya juang itu tidak akan lekang dan luntur oleh jaman.
D.     Nilai Estetis Karya Seni Rupa Tiga Dimensi
1.     Estetika Seni
Estetika itu adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya.
Estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni, Estetika berasal dari Bahasa Yunani yaitu aisthetike. Pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat  perasaan.
            Nilai estetis pada sebuah karya seni rupa tiga dimensi dapat bersifat objektif dan subjektif. Nilai estetis bersifat objektif jika memahami keindahan karya seni rupa berada pada wujud karya seni itu sendiri dan tampak secara kasatmata. Dalam pandangan objektif ini, nilai estetis atau keindahan sebuah karya seni rupa tiga dimensi tersusun dari komposisi yang baik, perpaduan warna yang sesuai, penempatan objek yang membentuk kesatuan dan sebagainya. Keselarasan dalam menata unsur-unsur visual inilah yang mewujudkan sebuah karya seni rupa.
Berbeda halnya dengan nilai estetis yang bersifat subjektif, keindahan tidak hanya pada unsur-unsur fisik yang ditangkap oleh mata secara visual, tetapi ditentukan oleh selera orang yang melihatnya. Sebagai contoh ketika melihat sebuah karya seni rupa, beberapa orang mungkin tertarik pada apa yang ditampilkan dalam karya tersebut dan merasa senang untuk terus melihatnya bahkan ingin memilikinya, tetapi orang lain justru malah kurang tertarik pada karya seni tersebut dan tidak menginginkannya. Berikut adalah nilai nilai estetis dari karya senirupa 3 demensi :
1.                  Simbiolis.
Karya seni tradisional biasanya diwarnai perlambangan dalam bentuk metafora binatang, tumbuhan, bangunan, atau figur manusia. Metafora binatang dan tumbuhan banyak kita jumpai di candi-candi, motif hiaskain batik, bahkan perabotan sehari-hari.

2.                  Mitologis.
Sifat mitologis adalah tokoh legenda dan mitos suatu daerah yang ditransformasi lewat karya seni. Sebagai contoh bentuk wayang yang mempunyai karakter masing-masing ini juga termasuk karya seni bersifat mitologi, patung-patung yang dianggap dapat mempunyai kekuatan menolak bala, dan sebagainya.
3.                  Religius.
Sifat religius adalah karya seni yang digunakan sebagai penunjang kegiatan ritual dan penyampaian ajaran agama. Simbol-simbol keagamaan biasanya terdapat pada bangunan tempat ibadah, model pakaian, ornamen pendukung, dan alat penunjang kegiatan ritual.
4.                  Fungsional.
Seni dapat memacu kreativitas selain memiliki nilai-nilai estetika, seni juga memiliki sifat sebagai berikut.
a. Menghibur dan menggugah
·         Sebagai wujud ungkapan rasa senang penciptanya.
·         Menggembirakan penikmatnya.
·         Membahagiakan masyarakat.
b. Manfaat
·         Sebagai benda praktis atau alat-alat keperluan rumah tangga.
·         Sebagai tempat yang nyaman.
·         Menciptakan tempat yang nyaman.
·         Menciptakan berbagai model, pakaian, kendaraan, dan lain-lain.
·         Sebagai media hiburan.


     

No comments:

Post a Comment

SiteMap : Pengertian, Fungsi dan Cara Membuat Sitemap

Pengertian Sitemap adalah salah satu alat bantu untuk para webmaster yang mempermudah dalam pengenalan peta situs di dalam website. Den...