A. Apresiasi Karya Seni Tiga Dimensi
1.
Apresiasi Karya Seni
1.1
Pengertian
Apresiasi
Istilah apresiasi pada dasarnya
berasal dari bahasa Inggris yaitu dari kata “appreciation” yang artinya
penghargaan, penilaian, dan pengertian. Jika diartikan dari asal katanya, maka
apresiasi merupakan aktivitas penilaian yang berupa penghargaan terhadap
sesuatu hal yang berbau dengan dunia karya seni atau pun karya sastra.
Selain pengertian di atas, berikut
merupakan beberapa pengertian kata apresiasi yang coba diutarakan oleh para
ahli.
1.
Kamus Besar
Bahasa Indonesia
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia, apresiasi adalah setiap penilaian baik; penghargaan;
seperti misalnya – terhadap karya – karya sastra atau pun karya seni.
2.
Hornby
Menurut Hornby,
dalam Sayuti, pengertian apresiasi mengacu kepada pengertian pengenalan dan
pemahaman yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan yang memberikan
penilaian.
3.
Aminuddin
Menurut
Aminuddin, apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau pun
kepekaan batin dan pengakuan terhadap unsur-unsur keindahan yang diungkapkan
oleh pengarangnya.
4.
Effendi
Menurut
Effendi, pengertian apresiasi merupakan aktivitas menggauli cipta sastra dengan
sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran
kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.
1.2 Fungsi
Apresiasi Seni
Ada empat fungsi yang menjadi utama dan dapat kamu
kenali agar lebih memahami mengenai apresiasi pada seni. Keempat fungsi
tersebut sebagai berikut.
1. Untuk
Meningkatkan Kecintaan Terhadap Karya Seni
Fungsi pertama adalah untuk meningkatkan kecintaan
terhadap karya seni. Atau dapat juga dikatakan sebagai ‘sarana’ yang mampu
meningkatkan rasa cinta terhadap karya seni khususnya karya seni yang dibuat
oleh anak-anak Indonesia.
2. Untuk Menciptakan Penilaian
Fungsi yang kedua adalah untuk menciptakan
penilaian. Penilaian ini berupa sarana dalam menikmati, memberi empat,
mendapatkan hiburan, serta menambah wawasan dan pengetahuan atau edukasi.
3. Untuk Mengembangkan Kemampuan
Fungsi ketiga adalah untuk mengembangkan kemampuan.
Kemampuan yang merupakan keanggupan diri sendiri dapat berupa mampu menciptakan
karya seni atau lain-lain. Sebagai penikmat seni yang memberi apresiasi,
terkadang banyak bagian dari kegiatan apresiasi tersebut yang mengasah
kemampuan.
4. Untuk Membangun Hubungan
Fungsi keempat atau terakhir ialah untuk membangun
hubungan. Hubungan tersebut berupa hubungan timbal-balik yang positif antara
pembuat seni dengan penikmat seni.
1.3 Tujuan
Apresiasi
Tujuan pokok dari apresiasi pada seni
berupa memperkenalkan atau mempublikasi karya seni tersebut agar karya seni
lebih dapat dinikmati oleh publik atau masyarakat juga maksud serta tujuannya
tersampaikan.
Terkadang
sebagai penikmat seni yang memang sekadar penikmat, kita tidak langsung dapat
mengerti maksud dan tujuan dibuatnya karya seni tersebut.
Nah,
dengan adanya apresiasi seni maka kita dapat lebih mudah mengerti maksud dan
tujuannya. Sementara itu untuk tujuan akhir, ada tiga poin. Ketiga poin tujuan
akhir tersebut sebagai berikut.
a.
Mengembangkan
nilai estetika karya seni
Estetika adalah
kepekaan terhadap keindahan atau seni. Hal ini membuat kita lebih cepat
menyadari unsur seni pada karya seni.
b.
Mengembangkan
daya kreasi
Selain
estetika, tujuan akhir berikutnya ialah mengembangkan kreasi. Karena kita
menjadi lebih peka dan mengerti maksud dari karya seni, maka daya kreasi kita
juga dapat bertambah.
c.
Menyempurnakan
Apresiasi pada
karya-karya seni juga sebagai ‘penyempurna’ dari karya-karya seni itu sendiri.
1.4
Tingkatan
Apresiasi
Dalam apresiasi
seni atau karya seni terdapat tingkatan-tingkatan yang mendeskripsikan
apresiasi seni tersebut. Tiga tingkatan dalam apresiasi seni meliputi Empatik,
Estetis, dan Kritik.
Berikut penjelasan mengenai tiga tingkatan tersebut beserta
contohnya.
a. Tingkat Empatik
Empatik dalam
kamus berarti melibatkan pikiran dan perasaan. Tingkat apresiasi seni ini lebih
berupa tangkapan indrawi aatau tangkapan dari indera-indera.
Contohnya
ketika mendengar sebuah karya seni musik, kita merasa nyaman dan betah
mendengar karya tersebut, lalu timbulah penilaian bahwa karya tersebut bagus.
b. Tingkat Estetis
Estetis dalam kamus
merupakan penilaian terhadap keindahan tersebut. Tingkat apresiasi seni ini
berupa pengamatan dan penghayatan.
Di tingkat ini
kita sebagai penikmat seni memberi apresiasi yang lebih pada pengamatan,
bagaimana bentuk dari karya seni tersebut, atau mengapa karya seni tersebut
dapat menjadi karya seni.
Contohnya saat
menyaksikan pagelaran seni teater, kita berpikir bagaimana adega tersebut dapat
dibuat dan apa fungsi daria degan tersebut. Apakah pas dan bagus, atau tidak.
c. Tingkat Kritik
Kamu pastinya sudah
dapat membayangkan bagaimana tingkatan pada tingkat apresiasi ini. Kritik di
sini dapat berbentuk klarifikasi, deskripsi, menjelaskan, menganalisis,
evaluasi, hingga mengambil kesimpulan.
Contohnya kamu
dapat melihat juri-juri dalam ajang-ajang yang ada di televisi misalnya ajang
bernyanyi.
Tingkat
apresiasi mereka sudah berada di tingkat ini di mana akan memberi masukan,
menilai dengan tidak lupa memberi penjelasan, dan memberi evaluasi juga
kesimpulan.
1.5
Contoh
Apresiasi Seni
Contohnya, ada seorang penikmat seni
yang diundang untuk datang ke pameran seni yang digelar oleh beberapa seniman.
Penikmat seni tersebut datang karena ini mengenal dan melihat hasil karya seni
yang dipamerkan.
Selanjutnya, saat
melihat-melihat, beberapa karya seni mampu menarik perhatian penikmat seni
tersebut dan membuatnya memberi penilaian dari sudut pandangnya.
Menurutnya beberapa karya tersebut
menarik, tetapi kurang warna. Dan dia mengungkapkan penialiannya tersebut pada
teman-teman lain juga sang seniman.
2.
Karya Seni Rupa
2.1
Pengertian Karya
Seni Rupa
Seni rupa adalah cabang seni yang
membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan
rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep titik, garis, bidang,
bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.
Secara kasar terjemahan seni rupa di
dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni
modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa
murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan
visual arts.seni rupa terbagi menjadi dua bagian yakni senirupa murni dan
senirupa terapan.
2.2
Macam-macam
Karya Seni Berdasarkan Fungsinya
1.
Seni Murni
Seni murni
adalah Sebuah kaya seni yang di buat dengan tujuan menuangkan ide dan imajinasi
dari seorang yang menciptakannya. Karya seni rupa ini hanya mengutamakan
keindahannya saja.
2.
Seni Terapan
Seni rupa
terapan adalah karya seni rupa yang tidak hanya digunakan untuk hiasan atau
pajangan di rumah, tetapi bisa memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari.
2.3
Fungsi Karya
Seni
Seni rupa berdasarnya fungsinya itu di
bagi menjadi 2 yaitu: fungsi individu dan fungsi sosial
1. Fungsi Individu
Fungsi seni rupa individu yaitu bersifat
untuk memuaskan diri sendiri. Artinya seseorang menciptakan karya seni itu
hanya untuk mengekspresikan dirinya untuk memuaskan batin.
Tentu saja hasil karyanya akan memancarkan
aura yang sangat mendalam karena merupakan hasil luapan ekspresi dari seseorang
entah itu sedih, senang, dan lain sebagainya.
2. Fungsi Sosial
Sedangkan fungsi rupa sosial dari seni
merupakanyang memberikan kepuasan banyak orang, misalnya saja seni dalam bidang
rekreasi yang bisa dinikmati banyak orang, seni dalam komunikasi agar bisa
menarik di hadapan banyak orang, serta seni di bidang rohani.
3.
Seni Rupa Tiga Dimensi
3.1 Pengertian
Seni Rupa 3 Dimensi
Seni rupa tiga
dimensi adalah seni rupa yang memerlukan ruang, karena mempunyai ukuran
panjang, lebar, dan tebal. Karena seni rupa tiga dimensi tidak mempunyai bidang
datar dan tidak datar, sehingga penempatannya berdiri lepas artinya tidak
tergantung pada dinding sebagai dasarnya.
Seni rupa tiga
dimensi adalah karya seni rupa yang mempunyai ukuran lebar, panjang, dan
tinggi; atau karya seni yang memiliki volume dan menempati ruang. Contoh karya
seni rupa tiga dimensi adalah keramik, patung dsb.
3.2 Fungsi Seni
Rupa 3 Dimensi
Karya seni rupa
memiliki dua fungsi yaitu Fungsi estetis dan fungsi Praktis sebagai berikut.
1. Pemenuhan kebutuhan yang bersifat
praktis (kegunaan),
yaitu karya yang fungsi pokoknya sebagai benda pakai, selain juga memiliki
nilai hias. Misalnya, perabotan rumah tangga, seperti meja dan kursi, lemari,
dan tekstil.
2. Pemenuhan kebutuhan yang bersifat
estetis (keindahan), yaitu fungsi yang semata-mata sebagai benda hias. Misalnya, karya
batik atau tenun yang dibuat khusus untuk hiasan dinding dan benda-banda
kerajinan untuk penghias ruangan, seperti topeng, patu ng, dan vas bunga.
3.3 Unsur Unsur
Seni Rupa 3 Dimensi
Seni rupa dibangun
oleh sejumlah unsur yang membentuk kesatuan yang padu sehingga karyanya dapat
dinikmati secara utuh. Unsur-unsur dasar karya seni rupa adalah unsur-unsur
yang digunakan untuk mewujudkan sebuah karya seni rupa. Unsur-unsur ini
diantaranya antara lain adalah titik, garis, bidang, bentuk, ruang, warna,
tekstur, dan gelap terang.
1). Titik
Titik adalah unsur
seni rupa yang paling dasar. Titik dapat melahirkan suatu wujud dari ide-ide
atau gagasan yang kemudian akan melahirkan garis, bentuk, atau bidang. Teknik
lukisan yang menggunakan kombinasi berbagai variasi ukuran dan warna titik
dikenal dengan sebutan Pointilisme.
2). Garis
Menurut jenisnya,
garis dapat dibedakan menjadi garis lurus, lengkung, panjang, pendek,
horizontal, vertikal, diagonal, berombak, putus-putus, patah-patah, spiral dan
Iain-Iain. Kesan yang ditimbulkan dari macam-macam garis dapat berbeda-beda,
misalnya garis lurus berkesan tegak dan keras, garis lengkung berkesan lembut
dan lentur, garis patah-patah berkesan kaku, dan garis spiral berkesan lentur.
Garis dapat juga
memberikan kesan watak tertentu sehingga dapat digunakan sebagai perlambangan,
seperti:
- Garis tegak melambangkan keagungan, kestabilan;
- Garis miring mengingatkan pada kegoncangan, tidak stabil, gerak;
- Garis tegas, kuat, terpatah-patah mengesankan kekuatan;
- Garis halus, melengkung-lengkung berirama mengesankan kelembutan,
kewanitaan.
Sedangkan menurut wujudnya garis dapat dibedakan menjadi:
- Garis nyata, merupakan garis yang dihasilkan dari coretan atau
goresan lengkung.
- Garis semu, merupakan garis yang muncul karena adanya kesan
balans pada bidang, warna atau ruang.
3). Bidang
Bidang merupakan
pengembangan garis yang membatasi suatu bentuk sehingga membentuk bidang yang
melingkupi dari beberapa sisi. Bidang mempunyai sisi panjang dan lebar, serta
memiliki ukuran.
4). Bentuk
Bentuk juga dapat
dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:
a. Bentuk geometris
Bentuk
geometris merupakan bentuk yang terdapat pada ilmu ukur meliputi:
- Bentuk kubistis, contohnya kubus dan balok.
- Bentuk silindris, contohnya tabung, kerucut, dan bola.
b. Bentuk nongeometris
Bentuk
nongeometris berupa bentuk yang meniru bentuk alam, misalnya manusia, tumbuhan,
dan hewan.
5). Ruang
Ruang dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu: Ruang dalam bentuk nyata, misalnya ruangan pada
kamar, ruangan pada patung. Ruang dalam bentuk khayalan (ilusi), misalnya
ruangan yang terkesan dari sebuah lukisan.
6). Warna
Kesan yang timbul oleh
pantulan cahaya pada mata disebut warna. Warna dapat dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu:
a.
Warna pokok atau primer, yaitu warna yang tidak berasal dari warna
apapun, meliputi warna merah, kuning, dan biru.
b.
Warna sekunder merupakan campuran dari warna primer.
Contoh:
• merah + kuning : jingga
• biru + kuning : hijau
• merah + biru : ungu
c.
Warna tertier merupakan hasil campuran antara warna primer dan
warna sekunder.
Contoh:
• kuning + hijau : kuning kehijau-hijauan
• biru + ungu : ungu kebiruan
• jingga + merah : jingga kemerahan
Selain jenis-jenis warna di atas terdapat pula warna netral, yaitu
warna putih dan hitam.
7). Tekstur
Tekstur adalah sifat
dan keadaan suatu permukaan bidang atau permukaan benda pada sebuah karya seni
rupa. Setiap benda mempunyai sifat permukaan yang berbeda. Tekstur dibedakan
menjadi tekstur nyata dan tekstur semu. Tekstur nyata adalah nilai raba yang
sama antara penglihatan dan rabaan. Sedangkan tekstur semu adalah kesan yang
berbeda antara penglihatan dan perabaan.
8). Gelap Terang
Suatu objek bisa
memiliki intensitas cahaya yang berbeda pada setiap bagiannya. Demikian pula
pada karya seni rupa. Seperti lukisan pemandangan alam. Adanya perbedaan
intensitas cahaya akan menimbulkan kesan mendalam.
3.4
Teknik-Teknik Seni Rupa 3 Dimensi
Daerah-daerah di
Indonesia memiliki bahan dan media yang bermacam-macam dalam teknik membuat
karya seni rupa 3 dimensi, semua berdasarkan lingkungan daerah tersebut.
Berikut ini adalah teknik-teknik yang biasa digunakan dalam
pembuatan karya seni rupa 3 dimensi:
1.
Teknik Aplikasi
Teknik Aplikasi merupakan sebuah karya hias yang
digunakan dalam seni menjahit dengan cara menempelkan bermacam-macam kain yang
sudah di gunting yang seperti bunga, bintang, boneka dan bentuk lainnya di
sebuah kain sebagai hiasan untuk mempercantik.
2.
Teknik Mozaik
Teknik Mozaik merupakan
sebuah teknik menggambar dengan menggunakan suatu bentuk geometris tertentu.
Bentuk geometris digunakan untuk mengganti bahan pewarna.
3.
Teknik Merakit
Teknik Merakit merupakan
sebuah karya seni dengan cara menyambungkan beberapa potongan bahan-bahan. Cara
ini bisa disebut dengan merakit, rakitan adalah hasil karyanya.
4.
Teknik Pahat
Teknik Pahat
merupakan teknik yang membuat karya seni dengan membuang bahan-bahan yang tidak
digunakan. Biasa dibuat menggunakan alat martil, pahat, kikir dan sebagainya.
5.
Teknik
Cor/Menuang
Teknik
cor/menuang merupakan karya seni yang dilakukan dengan cara menuang bahan cair
ke sebuah alat cetakkan. Bahan cair yang biasa digunakan terbuat dari semen,
karet, logam dan sebagainya.
B. Jenis
Karya Seni Rupa Tiga Dimensi
1.
Seni kriya
Seni kriya
merupakan salah satu jenis karya seni rupa 3 dimensi yang juga merupakan
kombinasi seni rupa terapan dan seni rupa murni. Seni kriya dibuat
tidak hanya untuk sebuah fungsi, tetapi juga memandang nilai estetika dari
karya yang dibuat. Secara singkat, seni kriya dapat diartikan sebagai seni
kerajinan tangan. Orang yang membuat seni kriya benar-benar mengandalkan
keahlian tangannya agar karya yang diciptakannya memiliki fungsi dan elok saat
dilihat.
Istilah seni kriya
mungkin terdengar elit, karena pada kenyataannya seni kriya itu memang sesuatu
yang bisa dianggap mewah. Biasanya, hasil seni kriya sering kita temukan di
tempat-tempat yang berhubungan dengan pariwisata, misalnya saja di lobby hotel
atau rumah makan. Kita bisa menemukan kursi, meja, atau guci yang tidak hanya
dipakai sesuai fungsinya, tetapi juga untuk kebutuhan memanjakan mata para
pengunjungnya.
Selain di kedua
tempat tersebut, seni kriya juga dapat dilihat pada rumah-rumah yang memakai
gaya Jawa atau Bali. Seni kriya yang dipakai pada rumah-rumah dengan gaya
tersebut biasanya terletak pada ukiran pintu, tembok, atau langit-langit rumah.
Di bawah ini akan dipaparkan beberapa contoh seni kriya 3 dimensi.
1.
Anyaman
Kegiatan dalam seni yang satu ini adalah
mengatur bahan dasar saling tindih atau menyilang. Bahan-bahan yang dipakai
biasanya adalah bahan yang ringan, mudah dipindahkan, dan lentur (mudah
dibentuk). Bahan dasar yang dipakai dalam kerajinan ini sangat beragam, bisa
dari daun, bilahan bambu, kayu rotan, atau bisa juga bahan sintetis.
Tetapi, jika ingin
anyaman dalam bentuk 3 dimensi yang ketahanannya baik, yang umum dipakai adalah
bambu, rotan, dan bahan sintetis. Hasil anyaman 3 dimensi dari bambu pada
umumnya berupa perabotan rumah tangga, tetapi seiring perkembangan zaman,
kreativitas anyaman bambu kini merambah ke dunia fashion.
Perabotan rumah
tangga yang dibuat dari bahan bambu sudah kita kenal, apalagi bagi kita yang
pernah melihat dapur di pedesaan, maka kita akan banyak menjumpai perabotan
rumah tangga yang dibuat dari bilahan bambu. Contohnya :
·
Nyiru
·
Tempat nasi
·
Tudung saji
·
Topi petani
·
Tempat alat-alat sembahyang
·
Lain dengan
pedesaan, di perkotaan hasil anyaman bambu diolah menjadi lebih kreatif lagi
dan bahkan menjadi tren. Hasil anyaman bambu zaman sekarang bisa berupa
:Anyaman :
·
Tas
·
Topi
·
Dompet
·
Tudung lampu
·
Hiasan dinding.
Selain bilahan
bambu, rotan bisa menjadi alternatif dalam pembuatan kerajinan 3 dimensi. Rotan
merupakan tumbuhan menjalar, panjang, dan tumbuh liar di hutan. Kelenturan
rotan sangat mendukung untuk dapat dijadikan anyaman yang memiliki fungsi
pakai, tahan lama, dan juga indah. Hasil anyaman rotan masih banyak kita jumpai
di masa sekarang ini. Contohnya kursi, meja, keranjang, dan bahkan ada yang
lebih kreatif lagi, yaitu sandal dan sepatu.
2. Kerajinan
Keramik
Jenis
karya seni rupa 3 dimensi yang satu ini dulunya terbuat dari tanah liat yang
harus diproses dengan cara dibakar, contohnya gerabah dan genteng. Tetapi
dengan majunya teknologi, bahan dasar keramik digabung dengan logam kimia
tertentu, sehingga membentuk bahan dasar yang baru. Sifat keramik bisa kita
lihat dengan jelas, sifatnya mudah pecah, kaku, dan keras. Karya seni keramik
biasanya terlihat mengkilap dan cenderung mahal.
Kerajinan
keramik di Indonesia cukup mudah ditemui. Kerajinan keramik tersebut bisa kita
lihat di daerah Purwakarta, Malang, dan Minahasa. Bentuk-bentuk karya keramik
di 3 daerah itu sangat beragam. Di Minahasa, tepatnya di Desa Pulutan, bentuk
kerajinan keramik di desa ini adalah beragam jenis pot, pajangan, dan wadah. Selain
Minahasa, daerah Purwakarta juga terkenal dengan kerajinan keramiknya.
Beragam bentuk
kerajinan keramik dibuat di daerah ini, mulai dari yang berfungsi sebagai
pajangan hingga perabotan rumah tangga. Masih di dalam Pulau Jawa, ada daerah
yang juga eksis karena kerajinan keramiknya, tepatnya daerah Dinoyo, Malang.
Pada awalnya, keramik daerah Dinoyo menggunakan bahan dasar tanah liat. Seiring
dengan berjalannya waktu, dan masuknya budaya Cina, kerajinan keramik di daerah
ini memakai kombinasi bahan porselen.
3. Kriya Logam
Seni kriya
logam di negeri kita ini merupakan warisan budaya dari nenek moyang yang sudah
mendarah daging. Sejak zaman dahulu, khususnya zaman pemerintahan yang masih
berbentuk kerajaan, kriya jenis ini sudah banyak dipakai. Misalnya saja senjata
untuk penjagaan kerajaan atau saat berperang, semuanya terbuat dari logam.
Contoh senjata tersebut adalah keris, pedang, tombak, dan tameng. Ada juga
alat-alat musik yang dibuat dari logam, seperti gong dan gamelan. Perabotan
rumah tangga pun ada beberapa yang berbahan dasar logam.
Pada saat ini
pun, penggunaan seni kriya logam sangatlah eksis. Tekstur yang padat dan kuat,
membuat logam dipilih sebagai bahan dasar yang cocok untuk peralatan rumah
tangga. Contoh peralatan dapur yang dimaksud adalah sendok, garpu, panci,
wajan, dan pisau. Keberadaan hasil kriya logam tersebut sangat dibutuhkan di
setiap rumah tangga.
4. Seni Patung
Patung, menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, adalah tiruan bentuk hewan,
manusia, atau sebagainya dengan cara dipahat pada batu, kayu, atau bahan
lainnya. Jenis seni rupa 3 dimensi ini memang sengaja dibuat untuk kebutuhan
estetika, lebih tepatnya pembuatan sebuah mahakarya.
Seni pahatan
ini juga merupakan warisan budaya di Indonesia. Contoh seni patung yang
bersejarah di Indonesia adalah patung Martha Christina Tiahahu di Maluku dan
patung Dewa Wisnu di kawasan wisata Jimbaran, Bali.
Seperti yang
disebutkan sebelumnya, patung umumnya berbahan dasar kayu atau batu. Patung
yang dibuat dari kayu banyak digunakan sebagai cinderamata. Patung kayu bisa
dibuat berukuran kecil, medium, atau besar, tetapi jarang ada patung kayu yang
besarnya seperti mahakarya patung batu. Jenis patung yang terbuat dari kayu
pada proses akhir pembuatannya tidak diwarnai, hanya diberi pelitur saja,
tetapi saat ini sudah banyak patung kayu yang sudah mengaplikasikan teknik cat
warna.
Berikutnya
adalah patung batu yang keberadaanya sudah tidak diragukan lagi. Sejak zaman
dahulu kala pun, patung yang terbuat dari batu nyata ada dalam kehidupan kita.
Sebagian besar seni patung di Indonesia memiliki sejarahnya sendiri.
Selain 2 patung
yang sudah disebutkan diatas, masih banyak patung bersejarah lainya, seperti
Arca Dewa Ganesha, Arca Dewi Durga, dan Arca Bhairawa. Selain difungsikan
sebagai mahakarya, beberapa seni patung dibuat sebagai media pemujaan,
contohnya di negeri India dan di provinsi Bali.
C. Simbol
Karya Seni Tiga Dimensi
Simbol
adalah lambang yang mengandung makna atau arti, simbol berarti menarik
kesimpulan, berarti atau memberi kesan. Salah satu pengertian “simbol” adalah
makna yang dikandung dalam karya seni rupa baik pada wujud objeknya maupun pada
unsur-unsur rupanya. Misalnya saja unsur warna sering digunakan oleh perupa
sebagai simbol dari sesuatu. Warna merah misalnya, digunakan untuk menyimbolkan
keberanian, putih untuk menyimbolkan kesucian, hijau untuk menyimbolkan
kesuburan, dan sebagainya. Selain unsur warna simbol dalam seni rupa tiga
dimensi antara lain sebagai berikut.
Diantara
karya seni rupa tiga dimensi yang dapat memiliki makna dan simbol tertentu.
adalah patung, tugu dan monumen. Kebiasaan untuk membuat patung, tugu dan,
monumen yang melambangkan atau menyimbolkan sesuatu sudah dilakukan orang sejak
zaman dahulu.Karya seni rupa tiga dimensi ini ada yang terbuat dari kayu, batu
dan logam. Beberapa contoh patung tugu dan monumen yang ada di Indonesia
beserta simbolnya antara lain sebagai berikut.
A. Simbol Dalam Patung
Patung
adalah benda tiga dimensi karya manusia yang diakui secara khusus sebagai suatu
karya seni. Orang yang menciptakan patung disebut pematung. Dalam sebuah patung
terirat makna dan simbol sesuai dengan tujuan pembuatan patung tersebut.
Berikut ini beberapa contoh patung dan simbol yang tersirat di dalamnya.
1. Patung Selamat Datang
Patung
Selamat Datang dibangun untuk menyambut para atlit peserta Asian Games IV tahun
1962. Patung ini ada di depan gedung Hotel Indonesia yang mana berdiri persis
diatas air mancur bunderan HI. Sesuai dengan namanya, patung ini berdiri untuk
memberikan selamat datang buat para pendatang karena memang patung ini
menghadap ke arah Kota (Utara) sebagai pusat bisnis, perdagangan dan pendatang
dari pelabuhan waktu itu.
2. Patung Arjuna Wijaya/ Patung Asta Brata
Patung
Arjuna Wijaya yang dibangun Agustus 1987 ini menggambarkan Arjuna dalam perang
Baratayudha yang kereta perangnya dikendalikan Batara Kresna. Kereta tersebut
ditarik delapan kuda, yang melambangkan delapan ajaran kehidupan yang diidolai
oleh Presiden Soeharto. Asta Brata itu meliputi falsafah bahwa hidup harus
mencontoh bumi, matahari, api, bintang, samudra, angin, hujan dan bulan.
3. Patung Dirgantara
Patung
yang berada di daerah pancoran ini dibuat atas permintaan Bung Karno untuk
menampilkan keperkasaan dan kekuatan angkatan udara bangsa Indonesia. Patung
ini menghadap ke Utara dengan tangannya mengacung ke bekas Bandar Udara
Internasional Kemayoran.
4. Patung Catur Muka
Patung
Catur Muka (patung empat wajah). Patung ini berdiri pada lintas jalan di depan
kantor Walikota Denpasar dan dibuat pada tahun 1973. Disebut Catur Muka (Empat
Wajah) karena memiliki empat kepala menghadap ke empat penjuru mata angin.
berdiri di atas wujud bunga teratai atau padma sebagai simbolisme
reinkarnasi-Nya guru. Perwujudan empat muka adalah simbolisme dari pemegang
kekuasaan pemerintahan yang dilukiskan dalam keempat tangannya. Ada tangan
pemegang aksmala atau genitri yang
bermakna bahwa pusat segalanya adalah kesucian dan ilmu pengetahuan.
Ada
tangan yang memegang cemeti dan sabet sebagai simbol ketegasan dan keadilan
harus ditegakkan oleh pemerintah. Cakra artinya ‘barangsiapa yang melanggar
hukum dan peraturan harus dihukum’. Sungu artinya pemerintahan berpegang pada
penerangan atau undang-undang. Tali pada badan simbol reinkarnasi, artinya
‘mengetahui keadaan sebelum dan sesudah’.
Masing-masing
wajah dalam Patung Catur Muka mengarah ke empat penjuru mata angin. Wajah atau
sosok yang menghadap ke timur dimaksudkan sebagai Dewa Iswara, simbol pemberi
kebijaksanaan. Dewa Brahma menghadap ke selatan sebagai penjaga ketentraman.
Dewa Mahadewa menghadap ke barat, pemberi kasih sayang. Dewa Wisnu menghadap ke
utara sebagai penyuci jiwa manusia.
5. Patung Pahlawan
Patung
pahlawan, Patung ini dibuat buat ngasih penghargaan pada para pejuang
kemerdekaan Indonesia, dilambangin dengan seorang laki-laki yang make caping,
nyandang senapan dan lagi minta restu pada wanita yang ada disisinya untuk maju
ke medan perang. diresmikan tahun 1963 oleh Presiden Soekarno dan pada papan di
monumen ini tertulis "Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah bangsa
yang besar".
6. Patung Garuda Wisnu Kencana
Patung
Garuda Wisnu Kencana berlokasi di Bukit Unggasan - Jimbaran, Bali. Patung
tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pemelihara
(Sthiti), mengendarai burung Garuda. Tokoh Garuda dapat dilihat di kisah Garuda
& Kerajaannya yang berkisah mengenai rasa bakti dan pengorbanan burung
Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang akhirnya dilindungi oleh
Dewa Wisnu.
7. Patung Jenderal Sudirman (Pacitan)
Patung
ini terletak di Sobo, Pakisbaru, Nawangan Pacitan yaitu sekitar 34 km dari
pusat kota Pacitan. Patung Jenderal Soedirman selalu berdiri tegak dengan
pedang katana di sebelah kirinya. Dengan pakaian seperti tentara Jepang, dia
berdiri tegak tepat menghadap arah gerbang seperti sedang mengawasi sesuatu,
atau menjadi simbol di dalam museum Pembela Tanah Air (PETA) sendiri. Soedirman
menjadi figur teladan dan ikon TNI. Salah satunya karena dia terpilih sebagai
panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang pertama dan sekarang berubah nama
menjadi TNI.
8. Patung Pemuda Membangun
Patung
Pemuda Membangun adalah patung yang terletak di bunderan air mancur Senayan.
Dinamakan pemuda membangun karena patung tersebut menggambarkan seorang pemuda
membawa obor dengan semangat yang berkobar. Makna obor adalah sebagai alat
penerang dan dalam artian filosofis adalah untuk menerangi hati dan jiwa yang
gelap. Diharapkan kaum muda mengambil peran penting dalam pembangunan bangsa.
Partisipasi aktif dalam memajukan tanah air sangat diperlukan karena melalui
tangan pemuda lah terletak cita-cita dan harapan masa depan.
B. Monumen
Monumen
adalah jenis bangunan yang dibuat untuk memperingati seseorang atau peristiwa
yang dianggap penting oleh suatu kelompok sosial sebagai bagian dari peringatan
kejadian pada masa lalu. Beberapa monumen yang ada beserta simbol yang dimiliki
antara lain sebagai berikut.
1. Manumen Pancasila Sakti
Monumen
ini dibangun dengan tujuan mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang
berjuang mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari
ancaman ideologi komunis. Tujuh patung Pahlawan Revolusi Monumen Pancasila
Sakti berdiri berderet membentuk setengah lingkaran, dari timur ke barat, yaitu
Kapten P.A. Tendean, Letjen S. Parman, Letjen M.T. Harjono, Jenderal Ahmad
Yani, Letjen R. Soeprapto, Mayjen D.I. Pandjaitan, dan Mayjen Soetojo S.
2. Monumen Gatot Subroto (Purwokerto)
Monumen
ini berwujud jenderal Gatot Subroto menunggang kuda dengan tegap dan gagah
perkasa, menatap ke depan dengan kendali ditangan Tatapan ke depan melambangkan optimisme dan
tali kendali yang dipegang ditangan melambangkan beliau sebagai pemimpin atau
komandan. Tegangan otot pada posisi kaki
kuda serta sikap tegap Jenderal Gatot Subroto terlihat berwibawa.
3. Monumen Nasional (Monas)
Monumen
Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah
monumen yang terletak di Ibu Kota Republik Indonesia, yaitu Jakarta.
Pembangunan monumen nasional bertujuan untuk mengenang perjuangan bangsa
Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan RI 1945. Dengan adanya monumen
nasional tersebut Bangsa Indonesia berharap bisa terus membangkitkan semangat
patriotisme bangsa dimasa yang akan datang. Monumen ini dimahkotai lidah api
yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang
menyala-nyala.
4. Monumen Palagan Ambarawa (Jawa tengah)
Monumen
Palagan Ambawara merupakan simbol untuk mengenang sejarah pertempuran Palagan
Ambarawa pada tanggal 12 Desember - 15 Desember 1945. Pasukan Sekutu yang
terdesak dari Magelang mengadakan pengunduran ke Ambarawa, dan pasukan TKR yang
dipimpin Kolonel Soedirman berhasil menghancurkan Sekutu pada tanggal 15 Desember
1945, di mana kini diperingati sebagai Hari Infanteri. Gambaran singkat sejarah
pertempuran bisa dilihat pada relief yang dibuat pada dinding Monumen Palagan
Ambarawa.
5. Monumen Jogja Kembali
Monumen
Jogja Kembali yang biasa disingkat dengan Monjali ini berada di Yogyakarta.
Monumen berbentuk kerucut ini dibangun pada tanggal 29 juni 1985.Monumen Jogja
Kembali merupakan simbol atau lambang untuk peristiwa ditariknya tentara
pendudukan Belanda dari Ibukota RI, Yogyakarta pada saat itu, yaitu tanggal 29
Juni 1949. Dimana monument ini adalah tanda atau tetenger dari peristiwa
tersebut.
6. Monumen Bandung Lautan Api
Monumen
ini terletak di kawasan Lapangan Tegallega. Sudah jelas monumen ini didirikan
untuk memperingati peristiwa Bandung Lautan Api, dimana terjadi pembumi
hangusan Bandung Selatan yang dipimpin oleh Muhammad Toha.
7. Monumen Ahmad Yani
Monumen
Ahmad Yani berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Seperti namanya, monumen ini
dibuat untuk mengenang pengabdian dan perjuangan dari Jenderal Anumerta Ahmad
Yani. Perjuangannya yang hebat pantas dijadikan teladan bagi generasi penerus
bangsa, terutama bagi para prajurit Tentara Nasional Indonesia.
8. Monumen Slamet Riyadi (Surakarta)
Monumen
Slamet Riyadi berada di tengah Kota Surakarta, Jawa Tengah. Monumen yang berupa
patung Slamet Riyadi ini menjadi bentuk penghargaan terhadap jasa Letnan
Kolonel Slamet Riyadi. Tempat ini merupakan markas besar pasukan Slamet Riyadi
yang berjuang di tahun 1948.
C. Tugu
Tugu
adalah sebuah tiang besar dan tinggi yang terbuat dari batu, bata, dan
sebagainya. Tugu peringatan biasanya dibuat untuk memperingati suatu peristiwa
bersejarah. Beberapa tugu yang ada di Indonesia beserta simbolnya antara lain
sebagai berikut.
1. Tugu Muda (Semarang)
Tugu
ini dibangun untuk mengenang perjuangan pemuda Semarang dalam mempertahankan
kemerdekaan melawan Jepang yang terkenal dengan peristiwa Pertempuran 5 Hari di
Semarang. Monumen ini mengingatkan pada peristiwa heroik Pertempuran 5 Hari di
Semarang melawan tentara Jepang tahun yang silan. Monumen Tugu Muda dibangun
untuk memperingati pertempuran yang terjadi di Semarang pada 14 hingga 18
Oktober 1945 selama 5 han. Sebagai bukti mereka kala itu dengan Semangat Berani
Mati mempertahankan kemerdekaan negara yang baru beberapa pekan di Proklamasi
di Jakarta.
2. Tugu Yogyakarta
Tugu
Yogyakarta adalah salah satu lambang atau identitas dari kota Yogyakarta yang
terletak di perempatan Jl. Jenderal Sudirman dan Jl. Mangkubumi. Sultan
Hamengkubuwono I adalah pendiri Keraton Yogyakarta yang sekaligus juga pendiri
Tugu ini. Tugu. Konon tugu ini merupakan simbol penghubung laut selatan,
Keraton Yogyakarta dan gunung Merapi. Ketika melakukan meditasi, Sultan
Yogyakarta menggunakan Tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung
Merapi.
3. Tugu Khatulistiwa
Tugu
Khatulistiwa atau Equator Monument terletak di Jalan Khatulistiwa, Pontianak
Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Tugu ini juga menjadi salah satu simbol dari
kota Pontianak yang juga dijadikan sebagai ikon wisata sejarah. Pada tanggal
21-23 Maret dan 21-23 September biasanya terjadi peristiwa titik kulminasi
Matahari, yakni peristiwa alam ketika Matahari tepat berada di garis
khatulistiwa dimana posisi matahari tepat berada di atas kepala sehingga semua
bayangan dari benda-benda di bumi tidak akan nampak.
4. Tugu Proklamasi
Terletak
di kompleks Taman Proklamasi di Jl. Proklamasi (dahulunya disebut Jl.
Pegangsaan Timur No. 56), Jakarta Pusat. Tugu ini didirikan sebagai tugu
peringatan proklamasi kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Di kompleks ini
juga berdiri dengan megah patung Soekarno-Hatta ketika membacakan naskah
proklamasi. Diantara kedua patung proklamator tersebut, dibangun pula naskah
proklamasi yang terbuat dari lempeng batu marmer hitam, beserta dengan susunan
dan bentuk tulisan yang menyerupai ketikan naskah aslinya.
5. Tugu Pahlawan
Tugu
Pahlawan, adalah sebuah tugu yang menjadi markah tanah Kota Surabaya. Tubuh
tugu berbentuk lengkungan-lengkungan sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas
11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11,
tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya,
tetapi juga bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Tugu
Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di
Surabaya, dimana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama
Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.
6. Tugu Watu-Prompong (Banyumas)
Tugu
Watu terletak di Grumbul Prompong Desa Kutasari Kecamatan Baturaden Banyumas.
Tugu ini dibangun pada tahun 1979 oleh para eks Pasukan Pelajar Indonesia
Merdeka atau yang lebih dikenal dengan Pasukan IMAM ( Indonesia Merdeka
atau Mati ), untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa Indonesia khususnya dari
Pasukan IMAM dalam mengusir penjajah yang ingin kembali berkuasa di Indonesia
Tugu dari batu menggambarkan kekerasan dan ketahanan daya juang masyarakat
Indonesia dalam menghadapi penjajahan. Ketahanan dan daya juang itu tidak akan
lekang dan luntur oleh jaman.
D.
Nilai Estetis Karya Seni Rupa Tiga Dimensi
1. Estetika Seni
Estetika itu adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya.
Estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni, Estetika berasal dari Bahasa Yunani yaitu aisthetike. Pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.
Nilai estetis pada sebuah karya seni rupa tiga dimensi dapat bersifat objektif dan subjektif. Nilai estetis bersifat objektif jika memahami keindahan karya seni rupa berada pada wujud karya seni itu sendiri dan tampak secara kasatmata. Dalam pandangan objektif ini, nilai estetis atau keindahan sebuah karya seni rupa tiga dimensi tersusun dari komposisi yang baik,
perpaduan warna
yang sesuai, penempatan objek
yang membentuk kesatuan dan sebagainya. Keselarasan dalam menata unsur-unsur visual inilah
yang mewujudkan sebuah karya seni rupa.
Berbeda halnya dengan nilai estetis yang bersifat subjektif, keindahan tidak hanya pada unsur-unsur fisik yang ditangkap oleh mata secara visual, tetapi ditentukan oleh selera orang yang melihatnya. Sebagai contoh ketika melihat sebuah karya seni rupa, beberapa orang mungkin tertarik pada apa yang ditampilkan dalam karya tersebut dan merasa senang untuk terus melihatnya bahkan ingin memilikinya, tetapi orang lain justru malah kurang tertarik pada karya seni tersebut dan tidak menginginkannya. Berikut adalah nilai nilai estetis dari karya senirupa 3 demensi :
1.
Simbiolis.
Karya seni tradisional biasanya diwarnai perlambangan dalam bentuk metafora binatang, tumbuhan, bangunan, atau figur manusia. Metafora binatang dan tumbuhan banyak kita jumpai di candi-candi, motif
hiaskain batik, bahkan perabotan sehari-hari.
2.
Mitologis.
Sifat mitologis adalah tokoh legenda dan mitos suatu daerah yang ditransformasi lewat karya seni. Sebagai contoh bentuk wayang yang mempunyai karakter masing-masing ini juga termasuk karya seni bersifat mitologi, patung-patung yang
dianggap dapat mempunyai kekuatan menolak bala, dan sebagainya.
3.
Religius.
Sifat religius adalah karya seni yang digunakan sebagai penunjang kegiatan ritual dan penyampaian ajaran agama. Simbol-simbol keagamaan biasanya terdapat pada bangunan tempat ibadah, model pakaian, ornamen pendukung, dan alat penunjang kegiatan ritual.
4.
Fungsional.
Seni dapat memacu kreativitas selain memiliki nilai-nilai estetika, seni juga memiliki sifat sebagai berikut.
a. Menghibur dan menggugah
·
Sebagai wujud ungkapan rasa senang penciptanya.
·
Menggembirakan penikmatnya.
·
Membahagiakan masyarakat.
b. Manfaat
·
Sebagai benda praktis atau alat-alat keperluan rumah tangga.
·
Sebagai tempat yang nyaman.
·
Menciptakan tempat yang nyaman.
·
Menciptakan berbagai model, pakaian, kendaraan,
dan lain-lain.
·
Sebagai media hiburan.
No comments:
Post a Comment