Sinopsis
“ Mimpi yang Tertukar”
Pada
suatu hari di toko ayam milik Nenek tua ada seorang gadis cantik yang sedang memotong
bawang, membantu neneknya. Dia adalah Jesi gadis ceria yang memiliki mimpi
menjadi seorang guru. Jesi tinggal bersama neneknya, orang tuanya meninggal
sejak ia masih berusia lima tahun. Setiap hari setelah ia membantu neneknya
Jesi langsung pergi ke sekolah bersama Riki, dia adalah teman sejak kecil Jesi
yang selalu menemaninya.
Pukul
tujuh pagi suara bel sekolah mengheningkan suasana kelas yang gaduh. Jesi duduk
di sebuah bangku dekat jendela dengan teman sebangku Meidi. Dia adalah sahabat
baik Jesi yang pandai bernyanyi dan bermain musik. Di suatu ketika Meidi
mengajak Jesi untuk mengikuti audisi bernyanyi masuk perusahaan musik yang
nantinya menjadi idol. Dalam audisi itu juri memutuskan hanya satu yang lolos
diantara Jesi dan Meidi. Dan akhirnya juri memutuskan Jesi lah yang lolos.
Meidi merasa kecewa karena malah Jesi yang diterima. Pershabataan mereka
menjadi rapuh gara-gara hal tersebut. Jesi merasa bersalah kepada Meidi.
Pagi
hari disekolah Meidi yang biasanya menyapa Jesi sekarang hanya duduk dan
langsung memakai earphonenya tanpa melihat Jesi sedikitpun. Riki yang melihat
situasi itu langsung menghampiri mereka berdua, tapi Meidi malah pergi
meninggalkan Jesi dan Riki.
“Kenapa,
ada masalah?” tanya Riki.
Jesi
pun menceritakan semua apa yang terjadi diantara mereka berdua. Disisilain
Meidi pergi keatap sekolah, ia pun tak tahan menahan air matanya iapun menagis.
Tak sadar disudut atap sekolah ada seorang laki-laki yang sedang berbaring
menatap langit. Dia merasa terganggu dengan suara tangisan itu dan menghampiri
Meidi. “Hey berisik tau, kalau mau bunuh diri bukan disini tempatnya!” Meidi
pun terkejut dan langsung mengusap air matanya. Dan pergi meninggal Jaksen.
Jaksen pun merasa aneh dengan tingkah laku Meidi.
Satu
bulan berlalu Jesi dan Meidi masih saling diam, tidak seperti biasanya. Di
suatu ketika dikelas jam istirahat pun tiba.
Jesi merasa tak tahan dengan suasana yang saling canggung dan
marah-marahan itu dia berdiri dan melepas earphone yang dipakai Meidi dan
berkata “Mei, aku gak tahan kamu terus-terusan kaya gini, aku tau aku salah
tapi ini sudah hampir satu bulan kita diem-dieman kaya gini, maafin aku Mei,
maaf!” Meidi terdiam sejenak mendengar pernyataan Jesi dan kemudian Meidi
berdiri dan langsung berbicara.
“Maaf?
gak cukup kata maaf, tau diri dong kamu udah ngerusak mimpi aku, kamu rebut
mimpi aku, aku benci sama kamu!” Meidi yang tidak tahan dan akhirnya pergi
meninggalkan kelas.
“Jesi!”
suara Riki berteriak memaggil Jesi yang sedang menagis. Riki heran dengan yang
telah terjadi.
“Kamu
harus kerumah sakit!. Nenek kamu pingsan!” Jesi yang menangis langsung pergi ke
rumah sakit bersama Riki. Nenek Jesi mengalami serangan jantung dan dilarikan
kerumah sakit. Jesi semakin sedih dan tak percaya dengan apa yang sedang
terjadi.
Kini
disaat nenek jesi dirawat, Jesi menjadi murung dan jarang sekolah dan pergi
berlatih. Dia harus mengurus neneknya dirumah sakit.
Sore
hari Jesi pergi ke toko ayam neneknya untuk melihat-lihat sambil membersihkan
toko. “Tengg..!” terdengar suara lonceng pintu terbuka. “Maaf toko ini sedang
tutup!” Jesi pun berbalik dan kaget ternyatanya yang datang adalah Jaksen. Dia
adalah teman latihannya dan sekaligus teman sekelas. Dia mencoba menghibur Jesi
dengan mendengarkan musik yang sering mereka nyanyikan. “ Tetaplah berlatih
Jesi!” sahut Jaksen. Diluar toko
terlihat Meidi yang sedang menatap Jesi dan Jaksen. Meidi yang ingin melihat
keadaan Jesi, ia merasa menyesal dengan apa yang ia perbuat. Kemuadian
terdengar suara dering handphone Jesi dan ternyata Riki yang menelpon dan
memberi kabar buruk. Jesi dan Jaksen langsung pergi ke rumah sakit. Melihat hal
tersebut Meidi langsung mengikuti mereka.
Di
rumah sakit dengan suasana tegang dokter berusaha untuk menyelamatkan nyawa
nenek Jesi tetapi takdir berkata lain, nenek Jesi meninggal dunia. Jesi
menangis tersede-sedu dan teman-temannya pun ikut turut bersedih dan mencoba
menenangkan Jesi.
Kini
Jesi hanya tinggal sendirian dan tak tahu harus bagaimana. Dua hari berlalu
sejak kepergian nenek Jesi. Jesi tidak sekolah dan masih merasa sedih. “Tok tok
tok, Jesi?” seseorang menghampiri Jesi.
“Meidi!”
sahut Jesi dengan mata bengkak dan kaget. Meidi langsung memeluk Jesi dan
menangis, “Maafkan aku Jes.”Meidi meminta maaf kepada Jesi, Meidi merasa
bersalah telah membuat Jesi sedih, “Maafkan aku juga!” Jesi menagis. Mereka
saling maaf memaafkan. Merekapun baikan dan memutar lagu. Meidi menceritakan bahwa
dia akan ikut seleksi masuk perguruan tinggi dan melupakan mimpinya menjadi
penyanyi. Kemudian suasana semakin hangat dengan datangnya Riki membawa makanan
ditangannya.
*mohon maaf apabila ada kesalahan kalimat, kata, dan tanda baca.
No comments:
Post a Comment